31 March 2023, 13:58

Kadis Lingkungan Hidup Muna Dijebloskan ke Bui, Eks Dirjen Kemendagri Sakit & Bupati Nonaktif Kolaka Timur Jadi TSK

Eks Kolaka Timur Andi Merya Nur

Eks Kolaka Timur Andi Merya Nur

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjebloskan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muna, Laode M. Syukur Akbar ke jeruji besi alias bui. Tersangka kasus dugaan suap pengajuan pinjaman dana pemulihan ekonomi nasional daerah (PEN) untuk Kabupaten Kolaka Timur tahun 2021 itu ditahan di Rutan KPK pada Pomdam Jaya Guntur.

“Untuk kepentingan proses penyidikan, Tim Penyidik melakukan upaya paksa penahanan untuk Tersangka untuk 20 hari pertama dimulai tanggal 27 Januari 2022 s/d 15 Februari 2022,” ujar Deputi Penindakan KPK, Karyoto, Kamis (27/1/2022).

Selain Laode M. Syukur Akbar, KPK juga menetapkan Mantan Direktur Jenderal Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Mochamad Ardian Noervianto dan Bupati nonaktif Kolaka Timur, Andi Merya Nur.

Berbeda dengan dengan Laode, Andrian tak memenuhi panggilan pemeriksaan lantaran sakit sehingga tak berujung bui. KPK meminta Ardian untuk kooperatif hadir pada jadwal pemanggilan berikutnya.

“KPK menerima konfirmasi dari Tsk MAN (Ardian Noervianto) yang menyatakan berhalangan hadir dengan alasan sakit. KPK menghimbau agar yang bersangkutan hadir kembali sesuai dengan jadwal pemanggilan berikutnya oleh Tim Penyidik,” ucap Karyoto.

Sementara untuk tersangka Andi Merya, saat ini sedang menjalani persidangan dalam kasus dugaan suap terkait proyek yang berasal dari dana hibah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dalam perkara ini, Andy Merya diduga menyuap Ardian sebesar Rp 2 miliar melalui rekening Laode M. Syukur. Suap itu diberikan agar Kabupaten Kolaka Timur mendapat alokasi pinjaman dana PEN.

“Tersangka AMN (Andy Merya Nur) mengajukan permohonan pinjaman dana PEN sebesar Rp 350 miliar dan meminta agar tersangka MAN (Mochamad Ardian Noervianto) mengawal dan mendukung proses pengajuannya,” tutur Karyoto.

Uang Rp 2 miliar yang diberikan Andy Merya itu kemudian dibagi dua antara Ardian dan Laode M. Syukur. Ardian menerima dalam bentuk mata uang dollar Singapura sebesar Sin$ 131.000 atau setara dengan Rp 1,5 miliar yang diberikan langsung di rumah pribadinya di Jakarta. Sementara sisanya atau sebesar Rp 500 juta diterima Laode M. Syukur.

“Atas penerimaan uang oleh tersangka MAN, permohonan pinjaman dana PEN yang diajukan tersangka AMN disetujui dengan adanya bubuhan paraf tersangka MAN pada draf final surat Menteri Dalam Negeri ke Menteri Keuangan” kata Karyoto.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

KPK Tetapkan Eks Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri Tersangka Suap Dana PEN

Read Next

Ketum Peradi Bersatu Minta Alvin Lim Tak Remehkan Penegak Hukum