30 May 2024, 07:09

Jual Beli Jabatan, Bupati Nganjuk Patok Harga Rp 10 Juta Hingga Rp 150 Juta

daulat.co – Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat diduga mematok harga mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 150 juta untuk pengisian jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Demikian diungkapkan Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto.

“Jadi dari informasi penyidik tadi untuk di level perangkat desa itu antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta, kemudian untuk jabatan di atas itu sementara yang kita dapat informasi Rp 150 juta,” ucap Agus saat jumpa pers, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin (10/5/2021).

Dikatakan Agus, para perangkat desa se-Nganjuk diduga memberi suap untuk mendapat jabatan. Agus menduga ada lagi harga lain untuk jabatan yang lebih tinggi.

“Kalau tadi informasinya hampir di semua desa, perangkat desanya lakukan pembayaran. Jadi kemungkinan jabatan-jabatan lain juga dapat perlakuan yang sama,” ujar dia.

Novi Rahman Hidayat dan sejumlah pihak lain sebelumnya ditangkap dalam oprasi tangkap tangan (OTT) gabungan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Bareskrim Polri pada Minggu (9/5/2021). Dalam OTT itu tim gabungan menyita uang tunai sebesar Rp 647,9 juta yang berasal dari brankas pribadi Novi, delapan unit handphone, serta sebuah buku tabungan atas nama Tri Basuki Widodo.

“Barang Bukti yang sudah diperoleh uang tunai sebesar Rp 647.900.000 dari brankas pribadi Bupati Nganjuk, delapan unit telepon genggam, satu buah buku tabungan Bank Jatim atas nama Tri Basuki Widodo,” ungkap Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Brigjen Djoko Poerwanto dalam kesempatan yang sama.

Pasca OTT dan pemeriksaan intensif, penyidik Dittipidkor Bareskrim Polri menetapkan tujuh tersangka dalam kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait pengisian jabatan di Pemkab Nganjuk, Jawa Timur.

Para tersangka antara lain Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat, Camat Pace Dupriono, Camat Tanjunganom sekaligus Plt Camat Sukomoro Edie Srinato, Camat Berbek Haryanto  Camat Loceret Bambang Subagio, mantan Camat Sukomoro Tri Basuki Widodo, serta ajudan Bupati Nganjuk M Izza Muhtadin.

Atas perbuatannya, para tersangka disangkakan dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b, Pasal 11, dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Saudara NRH atau Bupati Nganjuk yang diduga sebagai penerima hadiah atau janji. Kemudian saudara DUP, camat. Saudara ES, Camat Tanjunganom sekaligus Plt Camat Sukomoro. HAR, BS, dan TBW selaku mantan camat Sukomoro sebagai pemberi dan, MIM ajudan Bupati Nganjuk yang diduga sebagai perantara,” ucap Djoko.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar menjelaskan, penyelidikan oleh KPK dan Bareskrim Mabes Polri terkait dugaan jual beli jabatan itu dilakukan sejak sekitar April 2021.

Operasi tangkap tangan bermula pada Minggu, 9 Mei 2021 saat Tim Gabungan KPK dan Bareksrim Mabes Polri mendapatkan informasi akan adanya penyerahan uang oleh pihak-pihak terkait dengan proses pengisian jabatan perangkat desa dan camat di jajaran Pemerintah Kabupaten Nganjuk.

“Tim Gabungan kemudian menindaklanjuti dan selanjutnya mengamankan 4 orang camat
di wilayah Kabupaten Nganjuk beserta barang bukti uang,” ujar Lili.

Dikatakan Lili, setelah dilakukan permintaan keterangan diperoleh fakta bahwa dugaan penerimaan
sejumlah uang dimaksud dikumpulkan atas arahan Bupati Nganjuk.

Menurut Lili, tim Gabungan juga menemukan fakta adanya beberapa dugaan para camat telah
menyerahkan sejumlah uang kepada Bupati Nganjuk melalui ajudannya.
Setelah rangkaian penyelidikan diikuti dengan operasi tangkap tangan, proses penyidikan akan dilakukan oleh pihak Bareskrim Polri.

“Selanjutnya Tim Gabungan KPK dan Bareskrim Mabes Polri mengamankan Bupati
Nganjuk untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” tutur Lili.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Penyidikan Kasus Jual Beli Jabatan Bupati Nganjuk Ditindaklanjuti Bareskrim Polri

Read Next

Jaksa Tuntut Pembobol Kas BNI Rp 1,2 Triliun Maria Lumowa 20 Tahun Bui