30 May 2024, 04:58

Jembatan Rembun Amblas, Jalur Pantura Pemalang – Pekalongan Macet Parah

Warga setempat memenuhi Jembatan Rembun yang amblas. Jembatan diketahui menghubungkan Pemalang dan Pekalongan. (Foto: daulat.co/Abimanyu)

Warga setempat memenuhi Jembatan Rembun yang amblas. Jembatan diketahui menghubungkan Pemalang dan Pekalongan. (Foto: daulat.co/Abimanyu)

daulat.co – Jembatan Rembun yang menjadi penghubung antara Kabupaten Pemalang dengan Kabupaten Pekalongan amblas pada Kamis, 4 Februari 2021 malam, sekira  pukul 20.00 WIB. Kemacetan lalu lintas pun tak terhindarkan akibat amblasnya jembatan tersebut.

Jembatan Rembun ini diketahui terdapat dua bagian, bagian utara dan bagian selatan. Adapun yang mengalami amblas adalah bagian jembatan sisi sebelah selatan atau jalur dari Pekalongan arah Jakarta. Sedangkan bagian utara jembatan arah sebaliknya,  dari Jakarta arah ke Semarang dan Jawa Timur.

Amblasnya jembatan sebelah selatan ini praktis membuat satu jembatan dibagian utara dijadikan dua arah. Rekayasa arus lalu lintas arah Jakarta dialihkan ke jembatan bagian sisi utara. Karena itu pula, pengguna jalan diimbau untuk berhati-hati.

Kekhawatiran juga muncul sejalan dengan penggunaan jembatan bagian utara untuk dua arah, yakni mengikuti jejak jembatan bagian selatan yang amblas.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pemalang Wahadi saat dimintai keterangan melalui selulernya mengatakan, amblasnya Jembatan Rembun diakibatkan longsor bagian bawah jembatan

“Dari analisa di lapangan, kemungkinan besar ambruknya jembatan karena sudah rapuh mas, termakan usia,” ujarnya.

“Kemungkinan 99% dikarenakan akibat derasnya arus air hujan di daerah selatan yang cenderung tinggi, ditambah lagi beratnya beban kendaraan yang melintasi jembatan serta intesitas lalu lintas yang padat,” sambung Wahadi.

Salah satu warga melihat Jembatan Rembun bagian selatan yang amblas pada Kamis 4 Februari 2021 malam (Foto: daulat.co/Abimanyu)
Salah satu warga melihat Jembatan Rembun bagian selatan yang amblas pada Kamis 4 Februari 2021 malam (Foto: daulat.co/Abimanyu)

Ia mengungkapkan, selain tergerus dan longsornya bagian bawah jembatan, permasalahan umum yang dihadapi mayoritas jalan di Pantura adalah kapasitas dan daya dukung jalan yang sudah mencapai titik jenuh (over capaxity dan overload).

Idealnya, kata Wahadi, Jalan Pantura dilewati 1.600 satuan mobil penumpang. Faktanya, mobil yang melewati jalan di Pantura berkisar 40 ribu sampai dengan 45 ribu kendaraan per harinya. Dengan jumlah kendaraan rata-rara 45 ribu per hari, tingkat kejenuhan disebutkan dia mencapai 1,3.

“Padahal idealnya, kejunuhan Jalan Pantura 0,4 sampai dengan 0,6. Inilah kenapa begitu ada gangguan sedikit saja, jalur Pantura langsung macet total,” tutur Wahadi.

Parahnya lagi, masih kata Wahadi, volume kendaraan yang melintas justru berupa kendaraan berat yang melebihi tonase. Meski diketahui, jalan dan jembatan di Pantura rerata di desain untuk dilalui kendaraan dengan muatan sumbu terberat (MST) sebesar 10 ton.

(Abimanyu)

Read Previous

Program Jateng Dirumah Saja, HKTI Ajak Masyarakat Berkebun di Pekarangan Rumah

Read Next

Kepengurusan Aldi Firdaos Dipertanyakan, Hamu Cs Siap Gelar Musda KNPI Pemalang