16 January 2021, 09:52

Jadi Tersangka Korupsi PT DI, Dirut PT Abadi Sentosa Perkasa Terima Rp 10,8 Miliar

dok KPK

dok KPK

daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan penetapan 3 tersangka kasus dugaan korupsi penjualan dan pemasaran di PT Dirgantara Indonesia. Tiga tersangka itu yakni, Dirut PT Abadi Sentosa Perkasa Didi Laksamana; Dirut PT Selaras Bangun Usaha, Ferry Santosa Subrata; dan Arie Wibowo selaku Divisi Pemasaran dan Penjualan PT DI tahun 2007-2014 serta Direktur Produksi PT DI tahun 2014 s.d 2019.

Para tersangka diduga diuntungkan dari proyek yang berujung rasuah tersebut. Mereka diduga turut menerima aliran sejumlah dana dari hasil pencairan pembayaran pekerjaan mitra penjualan fiktif. Didi Laksamana diduga menerima Rp 10.805.119.031; Ferry Santosa Subrata sebesar Rp 1.951.769.992; dan Arie diduga menerima
Rp 9.172.012.834.

Perbuatan para tersangka itu diduga mengakibatkan terjadinya kerugian keuangan negara pada PT DI (Persero) senilai Rp. 202.196.497.761,42 dan US$8.650.945,27 sehingga total kerugian negara lebih kurang
Rp 315 miliar (asumsi kurs 1 US$ adalah Rp. 14.600).

Atas perbuatannya, Para tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Dalam proses penyidikan, KPK mencermati fakta-fakta yang berkembang sehingga ditemukan dugaan tindak pidana korupsi yang melibatkan pihak lain,” ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (3/11/2020).

Kasus ini bermula saat Direksi PT DI (Persero) periode 2007-2010 melaksanakan Rapat Dewan Direksi (BOD/Board of Director) pada akhir tahun 2007. Dalam rapat itu dibahas dan disetujui sejumlah hal.

Pertama, terkait Penggunaan mitra penjualan (keagenan) beserta besaran nilai imbalan mitra dalam rangka memberikan dana kepada customer/pembeli PT DI (Persero) atau end user untuk memperoleh proyek. Rapat itu juga membahas pelaksanaan teknis kegiatan mitra penjualan dilakukan oleh direktorat terkait tanpa persetujuan BOD dengan dasar pemberian kuasa BOD kepada direktorat terkait.

“Persetujuan atau kesepakatan untuk menggunakan mitra penjualan sebagai cara untuk memperoleh dana khusus guna diberikan kepada customer/end user dilanjutkan oleh Direksi periode 2010-2017,” terang Alexander.

Awal 2008, Budi Santoso selaku direktur utama
PTDI dan Irzal Rinaldi Zailani selaku Asisten Direktur Utama Bidang Bisnis Pemerintah bersama-sama dengan Budi Wuraskito selaku Direktur Aircraft Integration, Budiman Saleh selaku Direktur Aerostructure dan Arie Wibowo selaku Kadiv Pemasaran dan Penjualan yang
membahas kebutuhan dana PTDI untuk mendapatkan pekerjaan di kementerian lainnya,
termasuk biaya entertaintment dan uang rapat-rapat yang nilainya tidak dapat dipertanggungjawabkan melalui bagian keuangan.

Menindaklanjuti persetujuan Direksi tersebut, para pihak di PT DI (Persero) melakukan kerja sama dengan Didi Laksamana serta para pihak di lima perusahaan (PT Bumiloka Tegar Perkasa (BTP), PT Angkasa Mitra Karya (AMK), PT Abadi Sentosa Perkasa (ASP), PT Penta Mitra Abadi (PMA), dan PT Niaga Putra Bangsa (NPB) dan tersangka Ferry Santosa Subrata tidak selaku Dirut PT Selaras Bangun Usaha (SBU) untuk menjadi mitra penjualan.

“Penandatanganan kontrak mitra penjualan sebanyak 52 kontrak selama periode 2008 sampai dengan 2016. Kontrak mitra penjualan tersebut adalah fiktif, dan hanya sebagai dasar pengeluaran dana dari PT DI (Persero) dalam rangka pengumpulan dana untuk diberikan kepada customer/end user,” ucap Alexander

Lebih lanjut Alexander, pembayaran dari PT DI (Persero) kepada perusahaan mitra penjualan yang pekerjaannya diduga fiktif tersebut dilakukan dengan cara mentransfer langsung ke rekening perusahaan mitra penjualan. Kemudian sejumlah yang yang ada di rekening tersebut dikembalikan secara transfer/tunai/cek ke pihak-pihak di PT DI.

Nah, dana yang dihimpun oleh para pihak di PT DI (Persero) melalui pekerjaan mitra penjualan yang diduga fiktif tersebut diduga digunakan untuk pemberian aliran dana kepada pejabat PT DI (Persero), pembayaran komitmen manajemen kepada pihak pemilik pekerjaan dan pihak-pihak lainnya serta pengeluaran lainnya.

Usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka, ketiganya langsung ditahan. Tersangka Didi di Rutan Polres Jakarta Pusat, tersangka Ferry di Rutan Polda Metro Jaya, dan tersangka Arie ditahan di Rutan Polres Metro Jakarta Timur.

“Untuk kepentingan penyidikan, pada hari ini setelah dilakukan pemeriksaan kepada ketiga tersangka, penyidik akan melakukan penahanan untuk 20 hari ke depan terhitung sejak 3 November 2020 sampai dengan 22 November 2020,” kata Alex, sapaan Alexander Marwata.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Penjelasan Dukcapil Kemendagri Soal Data KPU Yang Terdaftar DPT di Pilkada Serentak 2020

Read Next

Menag Ajak FKUB Bumikan Moderasi Beragama