4 March 2021, 20:21

Istri Edhy Prabowo Diminta Kesaksiannya Soal Suap Benur Lobster

Edhy Prabowo

daulat.co – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa anggota DPR, Iis Rosita Dewi, Selasa (22/12/2020). Iis diperiksa sebagai saksi kasus suap terkait perizinan tambak, usaha atau pengelolaan perikanan alias ekspor benur yang menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

“Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka EP,”  ucap Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri.

Selain istri Edhy Prabowo itu, penyidik juga memanggil tiga saksi untuk tersangka Edhy. Yakni, Finance PT Peristhable Logistic Indonesia (PLI) Kasman; Advokat Djasman Malik, dan Plt Dirjen Perikanan Tangkap KKP Muhammad Zaini Hanafi.

Sementara satu saksi lainnya, yakni Halim Chasani selaku Chief Security Hotel Grandhika akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Suharjito.

Selain Edhy, enam orang yang juga telah ditetapkan KPK sebagau tersangka, yaitu Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Safri (SAF), Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Andreau Pribadi Misata (APM), Amiril Mukminin (AM) dari unsur swasta.

Selanjutnya, pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK) Siswadi (SWD), staf istri Menteri Kelautan dan Perikanan Ainul Faqih (AF), dan Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) Suharjito (SJT).

Edhy diduga menerima suap dari perusahaan-perusahaan yang mendapat penetapan izin ekspor benih lobster menggunakan perusahaan “forwarder” dan ditampung dalam satu rekening hingga mencapai Rp 9,8 miliar.

Uang yang masuk ke rekening PT ACK yang saat ini jadi penyedia jasa kargo satu-satunya untuk ekspor benih lobster itu selanjutnya ditarik ke rekening pemegang PT ACK, yaitu Ahmad Bahtiar dan Amri senilai total Rp 9,8 miliar.

Selanjutnya pada 5 November 2020, Ahmad Bahtiar mentransfer ke rekening staf istri Edhy bernama Ainul sebesar Rp 3,4 miliar yang diperuntukkan bagi keperluan Edhy dan istrinya Iis Rosita Dewi, Safri serta Andreau.

Uang tersebut antara lain dipergunakan untuk belanja barang mewah oleh Edhy dan istrinya di Honolulu, AS pada 21 sampai dengan 23 November 2020 sejumlah sekitar Rp 750 juta diantaranya berupa jam tangan Rolex, tas Tumi dan LV, dan baju Old Navy. Sekitar Mei 2020, Edhy juga diduga menerima 100 ribu dolar AS dari Suharjito melalui Safri dan Amiril.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

KPK Dalami Proses Penunjukan Langsung Vendor Bansos Lewat Pejabat Kemsos

Read Next

KPK Bisa Usut Dugaan Bansos untuk Kampanye di Sumbawa