24 June 2024, 18:00

Imam Nahrawi Akui Adiknya Pernah Terbelit Kasus Hukum di Polda Metro Jaya

Eks Menpora Imam Nahrawi

daulat.co – Mantan Menpora Imam Nahrawi tak membantah adiknya Syamsul Arifin pernah terseret perkara hukum yang ditangani Polda Metro Jaya. Saat itu, Syamsul Arifin pernah diperiksa dan berstatus saksi.

“Di Polda Metro Jaya pernah dipanggil sebagai saksi itu saja. Sudah putus di tahun 2017, tidak ada masalah,” ucap Imam Nahrawi saat pemeriksaan terdakwa, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (8/6/2020).

Imam mengungungkapkan hal itu merespon pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal kasus yang membelit adiknya. Jaksa juga mengonfirmasi apakah Imam berkeluh kesah terkait persoalan hukum itu kepada mantan Wakil Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Taufik Hidayat.

“Apakah terkait hal itu apakah saudara pernah berkeluh kesah bercerita kepada pak Taufik atau stafsus yang lain?,” tanya jaksa.

“Tidak pernah pak jaksa, karena itu urusan adik saya dan hanya sebagai saksi,” jawab Imam.

Tak puas dengan jawaban itu, jaksa kembali mengonfirmasi hal tersebut kepada Imam. Namun, Imam bersiukuh dengan jawabannya.

“Saya tidak masalah dengan posisinya, tapi apakah saudara pernah ada cerita ke pak Taufik mengenai hal itu?,” cecar jaksa.

“Tidak pernah,” kata Imam.

“Staf khusus lain?,” tanya jaksa.

“Tidak pernah, tidak ada,” jawab Imam.

Kuasa hukum juga sempat mengonfirmasi Imam soal pencarian uang Rp 800 juta oleh Taufik Hidayat untuk penyelesaian kasus adiknya yang bergulir di Polda Metro Jaya. “Tidak pernah. Dan itu dipersidangan terungkap uang itu diambil siapa,” ucap Imam.

Sebelumnya, Taufik Hidayat saat bersaksi dalam sidang lanjutan perkara suap pengurusan dana Hibah KONI dan gratifikasi dengan terdakwa Miftahul Ulum, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (30/4/2020), tak membantah jika adik kandung mantan Menpora Imam Nahrawi, Syamsul Arifin pernah terseret perkara hukum.

Mantan staf khusus Imam Nahrawi itu menyebut persoalan hukum tersebut terkait asian games. Awalnya, Taufik bersama Direktur Perencanaan dan Anggaran Program Satlak Prima Tommy Suhartanto dipanggil Imam di ruang Menpora.

“Betul (Taufik dan Tommy dipanggil Imam Nahrawi),” ucap Taufik saat bersaksi melalui video conference.

Taufik sempat berkelit saat disinggung jaksa soal pengakuannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Taufik berdalih pemanggilan dirinya dan Tommy terkait keluh kesah Imam.

“Saya ingatkan di BAP mengenai mengurus masalah hukum adiknya Menpora?,” cecar jaksa.

“Ya itu hanya cerita aja pak, hanya keluh kesah saja,” kata mantan pemain bulu tangkis itu.

Tak puas, Jaksa kembali mencecar Taufik terkait penyampaian permintaan Imam mengurus perkara yang merundung adiknya. Saat itu, kata Taufik, dirinya sempat memberi saran.

“Bagaimana Menpora menyampaikan mengurus kasus adiknya?,” cecar jaksa.

“Beliau berkeluh kesah saja, di situ beliau cerita ada masalah dengan sosialisasi Asian Games, disitu pak, beliau menyatakan ini gimana ya dan saya menyarankan ke kuasa hukum Kemenpora karena ini kan Kemenpora, dan saya menyarankan itu,” ucap Taufik

Jaksa kemudian kembali membacakan BAP Taufik. Dalam BAP, Imam meminta Taufik berkoordinasi dengan Ulum terkait persoalan hukum Syamsul Arifin.

“Saat itu saya bertanya kepada Imam Nahrowi bantuan apa yang bisa saya bantu dan apa yang harus saya lakukan. Dan dijawab oleh Imam Nahrowi koodinasikan saja dengan Ulum, itu jawaban pak Imam, betul?,” kata jaksa.

“Betul,” jawab Taufik.

“Beberapa saat setelah pertemuan itu Miftahul Ulum datang menemui saya untuk menanyakan tindaklanjut permintaan Menpora. Saya bilang ke Ulum “harus diselesaikan seperti apa, kita kan punya biro hukum, antar instansi”, itu jawaban saudara lalu dijawab oleh Ulum ya udah mas Taufik mau koordinasi dengan siapa nanti kalau ada dana yang dibutuhkan untuk koordinasi tersebut nanti harus kita siapkan, ada kalimat pak Ulum seperti itu?,” ujar jaksa.

“Betul,” jawab Taufik.

Dalam persidangan, Jaksa juga menelisik lebih jauh terkait sejumlah penerimaan uang oleh Taufik. Jaksa curiga ada penerimaan uang yang beririsan dengan permintaan pengurusan perkara tersebut. Disinyalir diantaranya uang Rp 800 juta yang diambil dari cabor Bulutangkis dan Uang Rp 1 miliar dari Satlak Prima.

“Kenpa musti melalui sadara uang Rp 1 miliar kenapa ga langsung ke pak Ulum. Apa ada kaitan antara uang Rp 1 miliar dengan perintah permintaan pak Menpora kemudian koordinasi melalui Ulum kemudian saudara dimintai uang Rp 1 miliar melalui Ucok (mantan pejabat pembuat komitmen Satlak Prima, Edward Taufan Pandjaitan),” cecar jaksa.

Dalam persidangan, Taufik memang mengaku pernah menerima uang Rp 1 miliar. Uang itu diantar Mantan asisten direktur keuangan Satlak Prima, Reiki Mamesah ke rumah Taufik. Beberapa waktu setelah itu, Ulum datang ke kediaman Taufik untuk mengambil uang tersebut.

“Konteks Rp 1 miliar itu untuk urusan apa?,” cecar jaksa.

“Saya ngga tau itu uang buat apa,” kata Taufik.

Diketahui, Direktorat Tipikor Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pernah mengusut kasus dugaan korupsi dana sosialisasi Asian Games 2018. Kasus itu menyeret Ikhwan Agus Salim dari PT Hias Prima Gitalis Indonesia (HPGI) jadi tersangka. Adapun Syamsul Arifin sudah diperiksa sebagai saksi dalam kasus tersebut.

Syamsul diketahui merupakan pelaksana lapangan kegiatan sosialisasi Asian Games 2018 di Surabaya dari CV Cita Entertainment (CE). Sebenarnya pemenang tender PT HPGI, namun pekerjaan tidak dilaksanakan PT HGPI, tetapi oleh CV Cita Entertainment.

Miftahul Ulum sebelumnya didakwa menerima suap Rp 11.500.000.000 bersama-sama dengan Imam Nahrawi. Uang berasal dari mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum (Bendum) KONI, Johnny E Awuy.

Menurut Jaksa, uang tersebut untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan oleh KONI Pusat kepada Kemenpora tahun anggaran 2018. Dikatakan Jaksa, Miftahul Ulum bersama-sama dengan Imam Nahrawi menerima fee dari Ending Fuad Hamidy dan Johnny E Awuy terkait sejumlah proposal yang diajukan KONI.

Proposal itu yakni, terkait bantuan dana hibah pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event 18th Asian Games 2018 dan 3rd Asian Para Games 2018. Kemudian, terkait proposal dukungan KONI Pusat dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun kegiatan 2018.

Selain itu, Ulum juga didakwa menerima gratifikasi sebesar Rp 8.648.435.682 bersama-sama dengan Imam Nahrawi. Ulum berperan sebagai perantara uang yang diterima dari berbagai sumber untuk Imam Nahrawi. Sedikitnya ada lima sumber uang gratifikasi yang diterima Ulum untuk kemudian diserahkan ke Imam Nahrawi.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Peringati Bulan Bung Karno, Posko Madhang Waras Bagikan Paket Sembako

Read Next

Bupati Lampung Utara Dituntut 10 Tahun Bui dan Bayar Uang Pengganti Rp 77,5 Miliar