24 June 2024, 04:11

Harun Masiku Titip Koper Isi Uang di Rumah Aspirasi, Rp 170 Juta Diserahkan di DPP PDIP

dok KPK

dok KPK

daulat.co – Saksi Patrick Gerard Masako alias Geri mengaku pernah mengambil titipan koper berisi uang di Rumah Aspirasi, Menteng, Jakarta Pusat. Geri mengambil uang ratusan juta rupiah yang bersumber dari tersangka suap pergantian antarwaktu (PAW) Anggota DPR RI Harun Masiku itu atas perintah kader PDIP Saeful Bahri.

“Pak Saeful minta tolong mengambil titipan berupa uang di rumah aspirasi. Seingat saya (uang) di koper. Koper warna abu-abu,” ungkap Geri saat bersaksi lewat video conference yang terhubung ke PN Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2020).

Di Rumah Aspirasi, Geri mengambil koper yang dikunci dengan gembok itu dari seorang office boy kantor DPP PDIP bernama Kusnadi alias Kus.

“Saya ambil koper tersebut dari pak Kus
(Kusnadi). Koper terkunci dan tergembok. Pak Kus menyerahkan koper berserta kunci gemboknya. Setau saya itu (koper berisi uang) dari pak Harun Masiku,” ujar Geri.

Setelah diambil dari Kusnadi, Geri membawa koper itu ke rumahnya. Di kediamannya, Geri menghitung uang tersebut. Setelah dihitung, uang dalam koper tersebut berjumlah Rp 850 juta

“Pak Saeful minta saya menghitung (uang), terus saya bawa pulang (koper). Saya hitung di rumah. Betul uang, pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Setelah saya hitung totalnya ada Rp 850 juta,” ucap Geri.

Dari jumlah tersebut, Geri diminta oleh Saeful memisahkan uang Rp 170 juta untuk Donny Tri Istiqomah. Donny merupakan penasihat hukum PDIP yang ditunjuk mengurus surat permohonan ke KPU terkait PAW tersebut.

“Pak Saeful minta saya pisahkan uang tersebut, Rp 170 juta itu yang kemudian saya serahkan ke pak Donny. Pak Saeful nyuruh saya ambil Rp 2 juta katanya uang bensin, sisanya tetap di dalam koper,” ucap Geri.

Sementara sisanya Rp 678 juta diantar oleh Geri ke kediaman Saeful. Geri menyerahkan uang Rp 678 juta dalam koper dengan keadaan terkunci dan tergembok itu ke Saeful melalui seseorang bernama Ilham.

“Sisanya saya serahkan ke pak Saeful,” imbuh dia.

Dalam persidangan, Geri mengaku tak mengetahui peruntukan uang dari Harun Masiku tersebut. Pun termasuk uang yang diserahkannya ke Donny.

Yang jelas, kata Geri, uang Rp 170 juta yang dibungkus plastik diserahkan langsung ke Donny di sekitaran kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Donny, kata Geri, tak berkomentar soal penyerahan uang tersebut.

“Saya bertemu langsung pak Doni, saya serahkan langsung uang tersebut. Saya serahkan di parkiran DPP PDIP, uangnya saya bungkus pakai plastik. Saya sampaikan (ke Donny) ‘ini yang dari Mas Saeful’. Dia (Donny) ngga ngomong apa-apa, sepertinya (soal uang) sudah tau,” kata Geri.

Pengakuan Geri diperkuat oleh Kusnadi yang juga dihadirkan bersaksi oleh jaksa KPK. Kusnadi membenarkan Harun Masiku menitipkan koper di Rumah Aspirasi, Jakarta Pusat pada akhir Desember 2019.

“Itu pagi di rumah aspirasi, ada pak Harun datang pagi terus katanya mau ketemu pak Saeful mau nitip barang,” kata Kusnadi.

Sebelum pertemuan itu, Kusnadi juga pernah bertemu Harun Masiku pada pertengahan Desember 2019. Harun saat itu menitipkan tas pada Kusanadi.

“Bertemu di resepsionis, terus dia minta tolong mau ketemu Doni sama Saeful, Dia nunggu lama minta tolong titip,” tutur Kusnadi.

Wahyu Setiawan bersama-sama Kader PDIP Agustiani Tio Fridenila sebelumnya didakwa menerima suap terkait permohonan Pergantian Antarwaktu (PAW) PDIP dari Riezky Aprilia sebagai anggota DPR RI Dapil Sumsel 1 kepada Harun Masiku. Wahyu menerima suap melalui Tio secara bertahap dari kader PDIP,  Harun Masiku dan Saeful Bahri dengan total Rp 600 juta.

Selain perkara suap, Wahyu Setiawan juga didakwa menerima gratifikasi Rp 500 juta dari Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Gratifikasi melalui Sekretaris KPU Provinsi Papua Barat, Rosa Muhammad Thamrin Payapo itu terkait proses seleksi calon anggota KPUD Papua Barat periode 2020-2025.

Dalam dakwaan jaksa, Harun Masiku pada 26 Desember 2019 meminta Saeful mengambil uang Rp 850 juta. Dari jumlah itu, Rp 400 juta ditukarkan menjadi 38.500 dolar Singapura diberikan sebagai DP II untuk Wahyu, Rp 170 juta untuk Donny Tri dan sisanya untuk Saeful.

Pada hari yang sama, uang 38.350 dolar Singapura itu kemudian diserahkan Saeful kepada Agustiani Tio di mal Pejaten Village.
Dari relasi Saeful bernama Donfri Jatmika, Agustiani mendapat Rp 50 juta.

Setelah menerima uang, Agustiani kemudian melaporkannya kepada Wahyu. Saat itu Agustiani diminta oleh Wahyu untuk menyimpan uang tersebut.

Kasus suap ini dibongkar KPK melalui Oprasi Tangkap Tangan (OTT). Sejumlah pihak termasuk Wahyu dan Agustiani diamankan dalam OTT pada 8 Januari 2020. Meski telah ditetapkan sebagai tersangka pada 9 Januari 2020, Harun yang sudah dicegah ke luar negeri dan dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron hingga kini belum berhasil dibekuk oleh penyidik KPK.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Lewat Sekuriti PDIP, Harun Masiku Diminta Rendam Ponsel dan Stanby di DPP

Read Next

Pelaku Dituntut Ringan, KPK Harap Hakim Beri Keadilan Terhadap Novel Baswedan