25 July 2021, 06:09

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi Rp 12,8 Miliar

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah

daulat.co – Gubernur Sulawesi Selatan Nonaktif Nurdin Abdullah didakwa menerima suap dan gratifikasi dari sejumlah kontraktor dan pengusaha. Diduga suap dan gratifikasi yang diterima senilai Rp 12,8 miliar.

“Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang ada
hubungannya sedemikian rupa sehingga dipandang sebagai perbuatan
berlanjut berupa menerima hadiah atau janji,”  ucap jaksa KPK, M Asri Irwan saat membacakan surat dakwaan Nurdin Abdullah, di Pengadilan Tipikor Makassar, Kamis (22/7/2021).

Terkait suap, Nurdin didakwa menerima Rp 2,5 miliar dan S$150 ribu Dollar atau Rp 1,59 miliar (dengan kurs S$1 senilai Rp 10.644) dari Pemilik PT Agung Perdana Bulukumba dan PT Cahaya Sepang Bulukumba, Agung Sucipto.

Uang itu diberikan agar Nurdin memenangkan perusahaan milik Agung Sucipto dalam pelelangan proyek
pekerjaan di Dinas PUTR Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Suap itu juga diberikan supaya Nurdin menyetujui proyek Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sinjai Tahun Anggaran 2021 dikerjakan oleh perusahaan milik Agung Sucipto dan Harry Syamsuddin.

Adapun gratifikasi, Nurdin didakwa menerima dari H Momo, Ferry Tanriadi, Petrus Yalim, Robert Wijoyo, dan beberapa kontraktor lainnya sejumlah Rp 6,5 miliar dan S$200 ribu atau Rp 2,13 miliar  (dengan kurs S$1 senilai Rp 10.644).

“Telah melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan
yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, menerima
gratifikasi,” kata jaksa.

Dikatakan jaksa, Nurdin pernah menggunakan rekening atas nama Pengurus Masjid Kawasan Kebun Raya Pucak untuk menampung uang gratifikasi. Total uang yang diterima melalui rekening tersebut senilai Rp 1 miliar.

Jaksa memerinci sejumlah pihak yang pernah mentransfer uang gratifikasi ke rekening tersebut. Pertama, Direktur PT Putra Jaya Petrus Yalim mentransfer Rp 100 juta pada 1 Desember 2020.

Kemudian, Pemilik PT Tri Star
Mandiri dan PT Tiga Bintang Griya Sarana, Thiawudy Wikarso sebesar Rp 100 juta. Selanjutnya, Sekretaris Direktur Utama Bank Sulselbar Riski Anreani yang uangnya berasal dari ajudan Nurdin, Syamsul Bahri sebesar Rp 100 juta pada 3 Desember 2020.

Keempat, dari Direksi PT Bank Sulselbar yang uangnya berasal dari dana CSR bank tersebut sebesar Rp 400 juta pada 8 Desember 2020. Terakhir, pada 26 Februari 2021 terdapat transaksi Rp 300 juta dari rekening Sulsel Peduli Bencana yang dipindahkan dananya melalui oleh Kepala Cabang Bank Mandiri Cabang Makassar Panakkukang Muhammad Ardi.

“Terdakwa pada Desember 2020 sampai dengan Februari 2021 untuk
kepentingannya menerima uang dengan jumlah total Rp 1 miliar dari beberapa pihak di rekening Bank Sulselbar nomor
rekening 0102020000099502 atas nama Pengurus Mesjid Kawasan Kebun Raya
Pucak,” ungkap Jaksa.

Atas perbuatannya Nurdin didakwa telah melanggar Pasal 12 huruf a dan atau
Pasal 11Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHPidana juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHPidana.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Bamsoet Buka Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 KADIN

Read Next

Syarief Hasan Dukung Pemberian Vaksin Booster ke Nakes