8 March 2021, 17:10

Gubernur Bengkulu Terseret Pusaran Suap Benih Lobster

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah – dok Setkab

daulat.co – Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah terseret kasus dugaan suap perizinan ekspor benih lobster atau benur. Hal itu mengemuka lantaran namanya masuk sebagai salah satu pihak yang dipanggil penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada hari ini, Selasa (12/1/2021).

Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengatakan, Rohidin hari ini diagendakan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka pemilik PT Dua Putra Perkasa, Suharjito.

Suharjito sendiri diketahui merupakan tersangka pemberi suap kepada bekas menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo. Namun demikian, belum diketahui keterkaitan Rohidin dalam sekarut pusaran kasus dugaan rasuah tersebut.

“Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka SJT (Suharjito),” ucap Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya,

Dalam kasus ini, KPK baru menetapkan tujuh tersangka. Ketujuh tersangka itu yakni, Edhy Prabowo, tiga staf khusus Edhy, Andreau Pribadi Misanta, Safri serta Amril Mukminin; Siswadi selaku Pengurus PT Aero Citra Kargo; Ainul Faqih selaku Staf istri Menteri KP; dan Suharjito selaku Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama.

Edhy bersama Safri, Andreau Pribadi Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Diduga suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

Diduha sebagian uang suap itu digunakan oleh Edhy dan istrinya Iis Rosyati Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp 750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton serta baju Old Navy.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Terkesan Buru-buru, Debby Kurniawan Minta Pemerintah Kaji Ulang Peniadaan Rekrutmen CPNS 2021

Read Next

Suap Bansos Covid, KPK Geledah Rumah Orang Tua Politikus PDIP