22 June 2024, 21:32

Fadli Zon: Forum WWF 2024 Mampu Hadirkan Dialog Interaktif Mengenai Air Dunia

daulat.co – Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon menjelaskan bahwa air merupakan salah satu sumber kehidupan yang vital. Tidak bisa dipungkiri, air memperoleh perhatian khusus dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang ke-6 (Sustainable Development Goals/SDGs) yang dicanangkan oleh PBB berupa ‘Terjaminnya Ketersediaan Serta Pengelolaan Air Besih dan Sanitas yang Berkelanjutan Bagi Seluruh Umat Manusia’.

Selaras dengan nilai SDGs tersebut, Fadli Zon meyakini pergelaran agenda Pertemuan Parlemen dalam rangka Forum Air Dunia ke-10 Tahun 2024 (Parliamentary Meeting on the Occasion of 10th World Water Forum 2024) bisa menjadi forum internasional yang menghadirkan dialog interaktif dari multipihak terkait.

“DPR dipercaya sebagai tuan rumah dari pertemuan parlemen World Water Forum di Bali. Kami melibatkan akademisi, ahli, hingga organisasi masyarakat sipil. Kami juga menerima masukan-masukan untuk persiapan (pertemuan antar parlemen) dari anggota BKSAP yang juga menjadi peserta dari sisi parlemen mewakili Indonesia,” tutur Fadli Zon dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (19/5/2024).

Pertemuan antarparlemen yang digelar sepanjang 19-21 Mei ini merupakan bagian dari rangkaian acara Forum Air Dunia ke-10) (10th World Water Forum/WWF). Dalam agenda pertemuan tersebut terdapat adanya Parliamentary Process.

Di mana, pada tahapan ini, para perwakilan parlemen yang hadir bisa berbagi perspektif terkait perumusan legislasi dan  anggaran terkait dengan kebijakan pengelolaan air. Maka dari itu, Forum Air Sedunia ke-10 yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali ini bertema ‘Memobilisasi Aksi Parlemen Terkait Air untuk Kemakmuran Bersama’ (Mobilizing Parliamentary Action on Water for Shared Prosperity).

Di sisi lain, agenda ini juga mengapresiasi peran masyarakat sipil yang menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan WWF kali ini.  Masyarakat Indonesia, khususnya Bali, telah berkontribusi secara aktif untuk melindungi kearifan lokal demi melindungi air dan lingkungan hidup. Sebab itu, perwakilan masyarakat sipil menjadi peserta pameran dalam WWF, di mana mereka terlibat dalam kegiatan pelatihan sehingga berpotensi membuka ruang untuk berbagi ide dan gagasan terkait dengan pengelolaan air.

Sebagai informasi, sebanyak 49 negara beserta sejumlah  perwakilan organisasi regional dan internasional akan menghadiri rangkaian pertemuan. Para perwakilan parlemen juga akan menghadiri  jamuan makan malam yang digelar oleh Presiden Joko Widodo di Garuda Wisnu Kencana  mengawali dimulainya rangkaian pertemuan WWF yang ke-10 pada tanggal 19 Mei.

Selanjutnya, sesi khusus parlemen akan dibuka keesokan harinya pada tanggal 20 Mei  oleh Ketua DPR RI, Dr. (H.C.) Puan Maharani, kemudian Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen DPR RI, Fadli Zon dan juga Presiden Dewan Air Dunia (World Water Council/WWC) Loic Fauchon. 

Delegasi akan berdiskusi, berbagi pengalaman dan bertukar pandangan mengenai  perumusan legislasi mengenai air melalui empat sesi pleno. Masing-masing sesi akan  membahas mengenai air dan keterkaitannya dengan pembangunan berkelanjutan.

Selama pertemuan para perwakilan dari parlemen negara-negara sahabat tersebut juga diperkenalkan pada kearifan lokal Indonesia, mulai dari sistem pengelolaan air di masyarakat setempat.

Lalu, adanya sejumlah pertemuan dengan para ahli pembangunan berkelanjutan dari badan-badan PBB dan beberapa organisasi internasional yang  fokus pada isu-isu pembangunan global akan didaulat untuk menjadi panelis, dalam  rangka memperkaya cakrawala para delegasi.

Harapannya, Pertemuan Parlemen dalam rangka Forum Air Dunia ke-10 Tahun 2024 ini bisa menghasilkan dokumen politik yang akan menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan, terutama parlemen, dalam merumuskan kebijakan dan solusi. Tidak hanya itu saja, parlemen diharapkan memegang teguh komitmen politik untuk memperbaiki pengelolaan air dan memfasilitasi akses air dan sanitasi yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat di seluruh dunia.

Read Previous

Komisi X DPR: Kenapa Biaya Kuliah Naik Sedang Anggaran Pendidikan di APBN Cukup Besar?

Read Next

Ratih Singkarru Prihatin Terkait Polemik Kenaikan UKT di Perguruan Tinggi Negeri