24 May 2024, 01:52

Eks Pejabat Kemensos Akui Pernah Diminta Juliari Kutip Fee Rp 10 Ribu Paket Bansos

Mensos Juliari P Batubara

daulat.co – Mantan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Kementerian Sosial (Kemensos) Adi Wahyono mengakui menerima arahan pemotongan Rp 10 ribu per paket bantuan sosial (bansos). Arahan tersebut datang dari mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari Peter Batubara.

Demikian terungkap saat Adi bersaksi untuk terdakwa Juliari Peter Batubara di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (31/5/2021).

Arahan pemotongan Rp 10 ribu juga tertuju pada mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) Kemensos, Matheus Joko Santoso. Permintaan pemotongan Rp 10 ribu itu mulanya datang dari staf khusus Mensos Juliari Peter Batubara, Kukuh Ariwibowo.

“Kurang lebih ‘mas bapak minta 10 ribu per paket per kantong’ bahasa yang masih saya ingat, jadi sebetulnya perintah itu tidak langsung ke saya untuk yang pertama. Polanya dari pak Menteri ke Kukuh, ke saya lalu saya sampaikan ke Joko,” ucap Adi saat bersaksi.

“Kata pak Kukuh anda diperintah kumpulkan 10 ribu per kantong arahan menteri?,” cecar jaksa penuntut umum (JPU) pada KPK, Muhammad Nur Azis.

“Saya tahunya karena beliau tenaga ahli menteri merupakan representasi dari menteri,” jawab Adi.

“Karena saya sering dipanggil beliau dan Kukuh. Kemudian ada juga Kukuh dateng ke ruangan saya diberi tahu untuk menyampaikan laporan berapa yang sudah masuk dan berapa yang sudah keluar kepada beliau, untuk putaran satu sebelum berakhir,” ditambahkan Adi.

“Saya menggali terkait dengan perintah menteri terkait Rp 10 ribu per kantong, kalau kata saudara, kan gitu. Saudara menerima awalnya itu dari Pak Kukuh pada minggu kedua atau ketiga bulan Mei atas informasi tersebut, apakah kemudian saudara melakukan konfirmasi apa kemudian dipertegas lagi oleh menteri perintah Rp 10 ribu per kantong?,” tanya Jaksa Azis.

Menurut Adi perintah itu ditegaskan terkait permintaan laporan pengadaan bansos. Pasalnya, Juliari meminta laporan pengumpulan uang dari Matheus Joko Santoso.

“Dipertegas itu dengan cara membuat laporan itu, itu adalah penegasan adanya perintah laporan berapa yang sudah masuk dan digunakan untuk apa, yang sudah masuk dari mana, yang kumpulkan kan Joko, jadi saya secara spesifik tidak tahu,” kata Adi.

“Pada saat mendapat perintah Rp 10 ribu per kantong, apa yang saudara lakukan? Apakah saudara percaya itu perintah Menteri?,” tanya Jaksa Azis.

“Kalau itu percaya, yang pertama yang diberi tugas mengumpulkan bukan saya. Saya lebih kepada penyaluran bansos. Waktu itu saya sampaikan Matheus untuk melaksanakan arahan dari Menteri,” jawab Adi.

Dikatakan Adi, Matheus Joko Santoso yang secara teknis mengumpulkan fee Rp 10 ribu per paket bansos. Terlebih Adi menyebut, Juliari pernah menanyakan terkait penerimaan fee pengadaan bansos itu.

“Jadi secara organisasi itu, pak Joko sebagai pemungut uang-uangnya kemudian mendapat perintah untuk keperluan. Pak Menteri juga pernah mengevaluasi, ada yang ngasih ada yang nggak,” ujar Adi.

Dalam persidangan jaksa sempat mempertegas perintah Juliari ke Adi. Hal tersebut lantaran salah satu vendor tak diwajibkan memberikan jatah.

“(Jaksa membacakan BAP no 44) masuk tahap 3 akhir Mei 2020 saya dipanggil Menteri Juliari seingat saya ada Kukuh, saya diminta untuk pungut fee 10 ribu per paket dari semua vendor kecuali PT Anomali betul?,” tanya jaksa.

“Iya,” jawab Adi.

Mendengar jawaban itu, jaksa langsung ‘menyentil’ Adi. “Katanya ngga pernah kasih arahan langsung? jadi pernah ngga diminta dan diingatkan menteri untuk memungut fee?,” cecar jaksa.

“Pernah,” jawab Adim

“Pernah ya?,” cecar jaksa mempertegas.

“Pernah,” tegas Adi.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Saksi Pastikan Rp 3 Miliar Ke Hotma Sitompul dari Vendor Bansos Atas Perintah Juliari

Read Next

Jika Novel Dkk Gugat ke PTUN, BKN: Kami Akan Sangat Bergembira