30 May 2024, 07:05

Eks Kalapas Sukamiskin dan Dirut PT Glory Karsa Abadi Dijebloskan ke Bui

daulat.co – Mantan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Klas I Sukamiskin Bandung periode 2016 sampai dengan Maret 2018 Deddy Handoko (DHA) dan Direktur Utama PT Glory Karsa Abadi, Rahadian Azhar akhirnya dijebloskan ke jeruji, Kamis (30/4/2020). Keduanya ditahan di Rutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kavling C1.

Demikian disampaikan Deputi Penindakan KPK, Karyoto dalam konferensi pers, di gedung KPK, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Saat konferensi pers, KPK turut menghadirkan dua tersangka kasus dugaan suap terkait pemberian fasilitas dan izin di Lapas Sukamiskin tersebut.

Keduanya ditahan usai diperiksa sebagai tersangka. Deddy dan Rahadian ditahan untuk 20 hari ke depan terhitung sejak 30 April 2020 hingga 19 Mei 2020.

“Hari ini KPK melakukan penahanan terhadap dua orang tersangka. Penahanan Rutan dilakukan kepada dua orang tersangka  tersebut selama 20 hari pertama terhitung sejak tanggal 30 April 2020 sampai dengan 19 Mei 2020 dan di Rutan Cabang KPK Kavling C1,” kata Deputi Penindakan KPK, Karyoto dalam konferensi pers, di gedung KPK, Jakarta, Kamis (30/4/2020).

Sebelumnya, KPK telah menetapkan tiga tersangka lainnya. Yakni, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin (Maret 2018) Wahid Husein (WH), Tubagus Chaeri Wardana (TCW) alias Wawan swasta sekaligus warga binaan, dan mantan Bupati Bangkalan sekaligus warga binaan, Fuad Amin (FA).

Namun, saat penyidikan kasus ini bergulir Fuad meninggal dunia. KPK akhirnya hanya fokus menangani pada perkara yang melibatkan empat tersangka lainnya.

Terkait konstruksi kasus, tersangka Wawan diduga telah memberikan mobil Toyota Kijang Innova Reborn Luxury 2.0 G A.T warna putih tahun 2016 dengan nomor polisi D 101 CAT kepada tersangka Deddy.

Adapun pemberian tersebut diduga terkait dengan kemudahan Izin keluar kapas yang diberikan tersangka DHA kepada Wawan baik berupa Izin Luar Biasa (ILB) maupun izin berobat dengan total izin pada 2016 sampai 2018 sebanyak 36 kali.

Sedangkan tersangka Rahadian diduga telah memberikan sebuah mobil merek Mitsubishi Pajero Sport kepada tersangka Wahid. Mobil dengan nomor polisi B 1187 FJG berwarna hitam itu diketahui atas nama Muahir, anak buah Rahadian.

Pemberian tersebut diduga dilakukan sehubungan dengan bantuan yang diberikan oleh Wahid Husein kepada tersangka Rahadian Azhar untuk menjadikan tersangka Rahadian Azhar sebagai mitra koperasi di Lapas Madiun, Lapas Pamekasan, dan Lapas Indramayu, serta sebagai mitra industri percetakan di Lapas Sukamiskin.

Atas perbuatannya, tersangka Deddy disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B UU 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. Sedangkan tersangka Rahadian disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 UU 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kasus ini sendiri merupakan pengembangan perkara kegiatan tangkap tangan yang dilakukan KPK pada 20-21 Juli 2018 di Bandung dan Jakarta. Beberapa tersangka sebelumnya yakni Wahid Husein, Fahmi Darmawansyah, Hendri Saputra, dan Andri Rahmat telah dinyatakan bersalah dan dipidana di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung dan perkaranya telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Imam Nahrawi Minta Taufik Hidayat Urus Kasus Hukum Adiknya

Read Next

Tambah 5 Nakes & 1 Warga, Pasien Positif Corona Pemalang Tembus 21 Orang