13 June 2024, 19:38

Eks Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Didakwa Terima Suap dari Airbus dan Roll-Royce

daulat.co – Mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar didakwa menerima suap berkaitan dengan sejumlah kontrak pengadaan pesawat dan mesin pesawat. Suap diterima Emirsyah dari Airbus S.A.S, Roll-Royce Plc dan Avions de transport régional melalui pemilik PT Mugi Rekso Abadi (MRA), Soetikno Soedarjo.

“Yang di ketahui atau patut di duga bahwa hadiah tersebut di berikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan seuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya yaitu terdakwa bersama-sama dengan Hadinoto Soedigno dan Capt Agus Wahyudo telah melakukan intervensi dalam pengadaan di PT Garuda Indonesia yaitu pengadaan pesawat Airbus A.330 series, Pesawat Airbus A.320, Pesawat ATR 72 serie 600 dan Canadian Regional Jet ( CRJ ) 1000 NG serta pembelian dan perawatan mesin ( engine ) Roll- Royce Trent 700 yang bertentangan dengan kewajibannya,” ucap Jaksa KPK, Wawan Yunarwanto saat membacakan surat dakwaan terdakwa Emirsyah, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (30/12/2019).

Dikatakan Jaksa Wawan, Emirsyah menerima uang
sebesar Rp 5.859.794.797; USD884.200; EUR 1.020.975; serta SGD 1.189.208 yang di terima dari Airbus S.A.S, Roll-Royce Plc dan Avions de transport régional (ATR)
melalui intermediary Connaught International Pte Ltd dan PT. Ardhyaparamita Ayuprakarsa milik Soetikno Soedarjo serta dari Bombadier Canada melalui Hollingsworld Management International Ltd Hongkong dan Summerville Pasific Inc.

Diterangkan jaksa, penerimaan uang dari Rolls-Royce Plc melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa dan Connaught International terkait TCP mesin RR Trent 700 untuk 6 unit pesawat Airbus A330-300 PT Garuda Indonesia yang dibeli tahun 1989. Selain itu, 4 unit pesawat yang disewa dari AerCAP dan International Lease Finance Corporation
(ILFC).

Adapun penerimaan uang dari Airbus melalui Connaught International, kata Jaksa,
terkait pengadaan pesawat Airbus A330-300 sebanyak 11 pesawat.

“Kemudian pada tanggal 07 Februari 2012, Terdakwa menerima fee pembelian pesawat Aibus 330 Series dari Airbus melalui Connaught International sebesar EUR 1,020,975 dimana penerimaan tersebut dilakukan Terdakwa dengan menggunakan rekening atas nama
Woodlake International di UBS dengan nomor rekening 153029,” terang jaksa.

Lebih lanjut dikatakan jaksa, Emirsyah menerima fee Airbus melalui Connaught International
terkait pengadaan 10 pesawat Airbus A320 dan 15 Airbus A320 Neo. 25 pesawat itu diperuntukan dalam rangka pengembangan bisnis PT Citilink Indonesia.

“Fee tersebut diterima Terdakwa dalam bentuk pelunasan pembayaran 1 (satu) unit rumah di Jalan Pinang Merah II Blok SK No.7-8 kepada Istiningsih Sugianto berikut biaya pajak dengan jumlah keseluruhan
Rp 5.790.000.000 dengan perincian sejumlah Rp 5.400.000.000 untuk pembayaran rumah dan
Rp 390.000.000 untuk pembayaran pajak,” kata jaksa.

“Bahwa uang pembayaran rumah dan pajak atas rumah di Jalan Pinang Merah II Blok SK No.7-8 kepada Istiningsih Sugianto dengan jumlah keseluruhan Rp 5.790.000.000 dimaksud berasal dari PT Mugi Rekso Abadi yaitu perusahaan milik Soetikno Soedardjo dan sumber uangnya berasal dari EADS yang terafiliasi dengan Airbus,” ditambahkan jaksa.

Terkait pengadaan enam pesawat Sub-100 seater Canadian Regional Jet 1.000 Next Generation (CRJ1.000NG)
dari Bombardier Aerospace Commercial Aircraft melalui Hollingworth Management International (HMI) dan Summerville Pasific Inc dan sewa 12 (dua belas unit Bombardier CRJ1.000NG dari Nordic Aviation Capital (NAC), terdakwa Emirsyah menerima USD200.000 dalam bentuk investasi dari Bombardier melalui HMI dan Summervile Pasific Inc di Mcquaire Group Inc.

Kemudian, terdakwa Emirsyah menerima uang SGD1.181.763,00 terkait pengadaan 21 pesawat ATR 72 seri 600. Uang itu bersumber dari Avions de Transport Régional (ATR)
melalui Connaught International.

Ayat perbuatan itu, Emirsyah didakwa melanggar Pasal 12
huruf b dan atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 31 Tahun
1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Atas dakwaan jaksa, Emirsyah tak akan mengajukan eksepsi atau nota keberatan. Sidang selanjutnya akan beragendakan pembuktian.

“Saya tidak mengajukan eksepsi,” kata Emirsyah.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Emrus Sihombing: Jabatan Jubir KPK Harus Segera Diisi

Read Next

Selain Suap, Eks Dirut PT Garuda Indonesia Didakwa Pencucian Uang