23 May 2024, 17:30

Eks Anggota BPK Didakwa Terima Suap Proyek Air Minum di Cipta Karya Kempupera

Palu Hakim - ist

Palu Hakim – ist

daulat.co – Mantan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Rizal Djalil didakwa menerima suap sebesar SGD 100.000 dan USD 20.000. Uang tersebut berasal dari Komisaris Utama PT Minarta Dutahutama, Leonardo Jusminarta Prasetyo.

Demikian terungkap saat Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membacakan surat dakwaan terhadap Rizal Djalil di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (28/12/2020).

Menurut jaksa, uang itu diberikan agar Rizal mengupayakan Minarta Dutahutana milik Leonardo Jusminarta menjadi pelaksana proyek pembangunan Jaringan Distribusi Utama Sistem Penyediaan Air Minum Ibu Kota Kecamatan (JDU SPAM IKK) Hongaria paket 2 pada Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (PSPAM) Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (Kempupera).

Atas perbuatannya, Rizal didakwa melanggar Pasal 12 huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“(Terdakwa) telah melakukan perbuatan yakni menerima hadiah berupa uang sejumlah SGD 100.000 dan USD 20.000 atau setidak-tidaknya sekira jumlah tersebut, dari Leonardo Jusminarta Prasetyo selaku Komisaris Utama PT Minarta Dutahutama,” ucap jaksa.

Dugaan rasuah itu bermula ketika Rizal Djalil diperkenalkan oleh mantan adik iparnya Febi Festia kepada Leonardo Jusminarta saat acara kedinasan di Bali pada 2016. Dua pekan setelah perkenalan itu, Leonardo yang diantar Febi kemudian menemui Rizal di rumahnya di daerah Pejaten Barat, Jakarta Selatan.

Leonardo dalam pertemuan itu menyampaikan ingin mengerjakan proyek-proyek di Kempupera melalui perusahaannya PT Minarta Dutahutana. Permintaan itu direspon positif oleh Rizal Djalil.

Pada pertengahan Oktober 2016, Rizal Djalil memanggil Mochammad Natsir selaku Direktur Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (Direktur PSPAM) Kempupera.

Rizal dalam pertemuan itu menyampaikan hasil temuan terhadap Proyek/Kegiatan Pembangunan Tempat Evakuasi Sementara di Provinsi Banten pada Direktorat Bina Penataan Bangunan Ditjen Cipta Karya.

Padahal, temuan tersebut bukan proyek di Direktorat PSPAM.

Dalam pertemuan itu, Rizal lantas menyampaikan akan dilakukan pemeriksaan khusus di Direktorat PSPAM dalam waktu dekat. Rizal selain itu menyampaikan adanya teman yang akan menemui Natsir.

Natsir beberapa hari kemudian dihubungi oleh Sudopo, staf Rizal.

Dalam komunikasinya, Sudopo mengatakan terdapat orang bernama Leo yang akan menemuinya sebagai tindak lanjut pertemuan dengan Rizal sebelumnya.

Leonardo yang ditemani oleh Febi Festia menemui Natsir di kantornya pada sore harinya.

Saat itu dia memperkenalkan diri sebagai kontraktor yakni Komisaris Utama Minarta Dutahutama.

Kepada Natsir, Leonardo menegaskan sebagai orang yang dimaksud Rizal. Leonardo juga berkeinginan untuk mengikuti lelang di Direktorat PSPAM.

“Mochammad Natsir mempersilakan Minarta Dutahutama untuk mengikuti proses lelang,” terang Jaksa.

Terkait proyek-proyek di Direktorat PSPAM pada tahun-tahun sebelumnya, Rizal menandatangani Surat Tugas Nomor: 73/ST/VI/10/2016 tanggal 21 Oktober 2016 untuk melaksanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) atas Pengelolaan Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi Air Limbah pada Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR dan Instansi Terkait Tahun 2014, 2015, dan 2016 di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jambi, yang rencananya pelaksanaan pemeriksaan akan berlangsung selama 45 dari tanggal 31 Oktober 2016 s/d 14 Desember 2016.

“Mochammad Natsir yang memahami kedudukan Terdakwa yang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan di Direktorat PSPAM tersebut, kemudian menindaklanjuti keinginan Terdakwa agar
Leonardo Jusminarta Prasetyo dapat menjadi pelaksana proyek di Direktorat PSPAM,” ungkap Jaksa.

Kemudian Natsir menyampaikan pesan kepada Tampang Bandaso selaku Kepala Satuan Kerja (Kasatker) SPAM Strategis bahwa ada proyek di lingkungan Direktorat PSPAM yang diminati oleh Rizal melalui kontraktor yang bernama Leonardo Jusminarta.

Akhirnya pada 16 November 2017, perusahan milik Leonardo dinyatakan sebagai pemenang dalam pelelangan Paket Pekerjaan Konstruksi Pengembangan JDU SPAM IKK Hongaria Paket 2 TA 2017-

  1. Total nilai kontrak pengadaan proyek tersebut sejumlah Rp 75.83 miliar.

Proyek yang lokasi pengerjaannya di wilayah Pulau Jawa meliputi Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta dan Jawa Timur itu senilai Rp 11.37 miliar dengan pagu anggaran 2017. Sementara anggaran tahun 2018 sebesar Rp 64.4 miliar.

Leonardo kemudian bertemu dengan Febi di sebuah lapangan golf setelah perusahaanya mendapatkan pembayaran uang muka termin 1. Staf Leonardo memberikan titipan kepada Febi dirumahnya untuk menyerahkan amplop berisi uang fee untuk Rizal.

Kemudian Rizal meminta Febi menyampaikan titipan amplop tersebut kepada putranya yang bernama Dipo Nurhadi Ilham. Setelah dihubungi Febi, Dipo meminta agar uang diberikan tidak dalam mata uang asing.

Atas permintaann itu, Febi kemudian menukarkan uang sejumlah SGD 100.000 itu secara bertahap di Money Changer PT Sinar Utama Valasindo di Mall Graha Cijantung Jakarta hingga mencapai jumlah sekira Rp 1 miliar.

Kemudian uang diserahkan Febi ke Dipo di parkiran mall Transmart Cilandak Jakarta Selatan.

Adapun sisa USD 20.000 yang diberikan Leo untuk Rizal dipergunakan untuk keperluan pribadi Febi.

Kemudian Dipo datang ke rumah Rizal di Pejaten Barat dan meletakkan paper bag berisi uang Rp 1 miliar di meja ruang kerja Rizal. Dipo memberitahukan Rizal bahwa ‘titipan’ sudah diletakkan di meja kerja dan diiyakan oleh Rizal.

“Sejumlah Rp 1 miliar melalui Dipo Nurhadi Ilham dengan memasukkan 2 paper bag berwarna coklat ke dalam mobil Alphard nomor polisi B 272 FYL yang dikendarai oleh Dipo Nurhadi Ilham sambil berkata “titip ini buat ayah”,” ujar Jaksa.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Puteri Anetta Komaruddin Dukung Bank Syariah Indonesia

Read Next

Skandal Suap Djoko Tjandra, Eks Politikus Nasdem Dituntut 2,5 Tahun Bui