1 December 2021, 09:35

Dugaan Aksi Booking Kamar Jelang Muktamar Dinilai Bisa Mencoreng Wajah NU

Logo Nahdlatul Ulama

daulat.co – Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin, mengaku tidak terlalu mengikuti isu mengenai aksi booking hotel yang diduga dilakukan oleh pejabat dari Kementerian Agama (Kemenag) RI jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-34 di Lampung, 23 hingga 25 Desember 2021 mendatang.

Namun demikian, jika benar adanya penyalahgunaan kewenangan dan anggaran di Kemenag RI jelang hajat demokrasi lima tahunan tersebut, selayaknya pihak yang ‘bermain’ harus dimintai penjelasan berikut pertanggungjawabannya. 

Untuk itu, dugaan aksi booking hotel jelang Muktamar NU Ke-34 harus dipastikan kebenarannya. Sehingga tidak menjadi isu liar yang dapat mengganggu jalannya muktamar itu sendiri. Terlebih NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, yang kiprahnya dijadikan rujukan ke bawah.

“Kalau benar ada dugaan penyalahgunaan wewenang, maka harus diusut secara tuntas. Karena tindakan itu selain dapat mencoreng wajah NU, juga tidak memberikan keteladanan bagi warga nahdliyin,” terang Ujang Komarudin kepada wartawan, Minggu 14 November 2021.

Dugaan aksi booking kamar hotel di Bandar Lampung dan Lampung Tengah ini sebelumnya diungkap Wakil Ketua PWNU Lampung, Muhamad Irfandi. Ia mengaku sempat kaget saat dapat informasi dari pegawai salah satu hotel di Bandar Lampung bahwa kamar hotel sudah penuh pada 23-25 Desember 2021.

Irfandi khawatir praktek monopoli hotel itu menganggu pelaksanaan muktamar. Terlebih, dari informasi yang didapatkan dia, beberapa hotel di Bandar Lampung dan Lampung Tengah sudah dibooking dan pemesanannya dilakukan oleh oknum dari Kementerian Agama.

Dugaan tersebut selanjutnya dilaporkan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Islam Nusantara (GMIN) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (11/11/2021). GMIN bahkan dalam orasinya jelang pelaporan, secara spesifik menyebut dugaan adanya kepentingan pribadi Yaqut Cholil Qoumas di Muktamar NU.

Menurut Ujang, sebetulnya menghangatnya dinamika jelang muktamar adalah yang biasa terjadi. Bukan hanya di tubuh NU, melainkan juga organisasi masyarakat lain. Namun NU adalah ormas terbesar di Indonesia, sehingga banyak pihak yang berkepentingan.

“Yang berkepentingan siapa? Yang jelas bukan hanya warga nahdliyin yang berkepentingan memilih ketua umum, karena organisasi ini mempunyai pengaruh besar di Indonesia,” kata dia.

Pucuk pimpinan PBNU, lanjut Ujang Komarudin, menjadi titik krusial pihak-pihak yang berkepentingan dalam kontestasi muktamar nanti. Tentu dalam hal ini warga nahdliyin sudah memahaminya. Dengan obyektifitasnya, warga nahdliyin akan memilih calon ketum yang merupakan ulama terbaik dan memang layak dihormati.

(M Abdurrahman)

Read Previous

Suap ’86’ Azis Syamsuddin, KPK Periksa Aliza Gunado dan Edy Sujarwo

Read Next

Relawan: Ada Menteri Sedang Memoles Diri Agar Layak Jadi Capres