24 June 2024, 16:16

Disebut Kerjanya Tangani Covid-19 Tidak Becus, Dinas Kesehatan Pemalang Jawab Begini

daulat.co – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pemalang menepis anggapan bahwa kinerjanya dalam menangani Covid-19 lamban dan terkesan tidak becus. Anggapan ini sebelumnya disampaikan Anggota DPRD Pemalang yang diketahui positif terpapar Covid-19, Nurul Huda.

Anggota Gugus Tugas dari DKK Pemalang, dr Yulis Nuraya, mengatakan, keterlambatan hasil swab sebagaimana dikritik Huda dikarenakan mesin polymerase chain reaction (PCR) pada laboratorium di Semarang mengalami kerusakan atau error.

Ditambah lagi, sampel swab test yang dilakukan di laboratorium tidak hanya menangani dari Kabupaten Pemalang, melainkan dari seluruh daerah yang ada di Propinsi Jawa Tengah.

“Untuk swab pada tanggal 27 Juli 20 dan hasilnya baru keluar tanggal 8 Agustus 2020 itu sedikit ada kerusakan, makanya lama hasil yang kami terima,” ujarnya.

Disampaikan Yulies, kemampuan alat PCR pada laboratorium di Semarang hanya mampu atau berkapasitas mengerjakan 100 sampel swab dalam kurun waktu 24 jam. Mengerjakan sampe dari seluruh daerah di Jateng, rata-rata dikerjakan dalam waktu 4 hingga 8 jam apabila tidak mengalami gangguan teknis.

Di Kabupaten Pemalang, lanjut dia, sebenarnya oleh Gugus Tugas sudah diadakan PCR di RSUD dr Azhari. Namun kapasitasnya hanya mampu mengerjakan 27 sampel dalam sehari. Pengerjaannya dikhususkan bagi pasien yang sakit Covid-19 dan mendapatkan perawatan di RSUD.

Sekretaris DKK Pemalang, Mardiyanto, menyayangkan pihak-pihak yang merasa tidak puas dengan kinerja Gugus Tugas, dalam hal ini DKK Pemalang. Kejadian tersebut semestinya tidak perlu terjadi jika yang bersangkutan berkoordinasi langsung. Terlebih pihak yang tidak puas tersebut adalah pejabat.

Mengenai tempat atau ruang isolasi pasien Covid-19, lanjut dia, pihaknya sudah menyiapkan ruangan khusus di RSUD dr Azhari yakni di Ruang Rajawali dan di Rumah Sakit Harapan Sehat. Namun yang bersangkutan (Nurul Huda) disebutkan Mardiyanto hingga kini belum berkoordinasi dengan DKK Pemalang.

“Sudah disiapkan isolasi mandiri di Rumah Sakit Harapan Sehat dan ruang rajawali RSUD dr Azhari, tapi yang bersangkutan tidak kunjung datang hingga hari ini,” ujarnya.

Sementara mengenai masukan pentingnya edukasi bagi masyarakat mengenai Covid-19, DKK Pemalang sebagaimana disampaikan Mardiyanto sudah berupaya maksimal. Hanya saja, masyarakat cenderung acuh dan tidak mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan Gugus Tugas.

“Untuk edukasi ke masyarakat dinas pun sudah melakukan namun masyarakatnya sendiri yang hingga kini cenderung acuh dan tida mau mengikuti protokol kesehatan yang sudah di tentukan,” tegasnya.

Sebelumnya, Anggota DPRD Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Nurul Huda menilai kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pemalang tidak maksimal dalam menangani wabah/pandemi corona.

Politisi asal Pesantren Ulujami mengeluhkan kerja DKK Pemalang dalam hal penanganan pasien Covid-19. Dirinya merasakan langsung bagaimana ketidakbecusan penanganan dimaksud. Khususnya mengenai isolasi bagi pasien.

“Mau minta rawat inap di rumah sakit, namun disuruh balik rumah, terus di suruh ke rumah sakit lagi, dan seterusnya, saya merasa menjadi bulan bulanan,” tegas Nurul Huda kepada daulat.co, Senin 10 Agustus 2020.

Kata dia, kinerja DKK Pemalang tidak bisa dibiarkan. Sebab jika dibiarkan, makin banyak masyarakat yang resah. Bagaimana tidak, dirinya yang mewakili sebagian besar masyarakat di beberapa kecamatan di Pemalang Timur dan saat ini duduk sebagai Ketua Komisi C DPRD saja ketika minta isolasi di rumah sakit tidak diindahkan. Bagaimana jika masyarakat biasa, tegas Huda.

Di sisi lain, pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah mendapatkan keluhan dari masyarakat sekitar. Pasalnya, dikhawatirkan akan berdampak, yakni menularkan Covid-19.

“Isolasi di rumah dianggap meresahkan masyarakat sehingga diminta warga untuk isolasi di rumah sakit saja,” imbuhnya

“Karena bikin resah warga. Kalau kejadiannya seperti ini, bukannya sembuh tapi malah tambah stres. Yang awalnya tidak punya penyakit menjadi bener-benar sakit karena faktor stres yang dialami para pasien positif Covid-19,” sambungnya.

Huda lantas menyinggung bagaimana rekannya di DPRD Pemalang baru-baru ini ada yang sampai meninggal karena Covid-19. Ia khawatir peristiwa itu terjadi karena lambannya kinerja DKK Pemalang, yakni dalam mengambil sampel swab namun untuk mengetahui hasilnya terlalu lama.

“Ini saya tes swab hampir 3 kali ini
Tapi hasilnya dua minggu baru ketahuan hasilnya. Tuntutan saya, copot Kepala Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan tidak becus tangani corona di Kabupaten Pemalang,” pungkas Huda.

(Abimanyu)

Read Previous

Meriahkan HUT 75 Kemerdekaan RI, PDAM Tirta Mulia Lelang Mobil dan Motor Bagi Karyawan

Read Next

Jadi Tersangka dan Ditahan, Jaksa Pinangki Terima Suap 500 Ribu USD