11 April 2021, 12:03

Dari Kontraktor, Gubernur Nurdin Diduga Terima Suap & Gratifikasi Hingga Rp 5,4 Miliar

Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah tiba di Gedung KPK

Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah tiba di Gedung KPK

daulat.co – Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah Abdullah dan Sekretaris Dinas PUPR Provinsi Sulawesi Selatan Edy Rahmat ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa, perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2020-2021.

Lembaga antokorupsi juga menetapkan PT Agung Perdana Bulukumba (APB) Agung Sucipto. KPK menduga Nurdin menerima suap sebesar Rp 2 miliar dari Agung. Selain suap, Nurdin juga diduga menerima gratifikasi dengan total sebesar Rp 3,4 miliar.

“AS (Agung) pada 26 Februari 2021 diduga menyerahkan uang sekitar Rp 2 miliar kepada NA (Nurdin) melalui ER (Edy),” kata Ketua KPK Komjen Firli Bahuri, di Gedung KPK, Kuningan, Minggu (28/2/2021).

Adapun gratifikasi sejumlah Rp 3,4 miliar itu diduga diterima Nurdin dari beberapa kontraktor. Namun KPK tak menyebutkan siapa kontraktor pemberi gratifikasi kepada Nurdin.

Penyidik KPK menunjukkan barang bukti yang berhasil diamankan dari OTT terhadap Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Minggu 28 Februari 2021 (Rangga Tranggana/daulat.co)
Penyidik KPK menunjukkan barang bukti yang berhasil diamankan dari OTT terhadap Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah, Minggu 28 Februari 2021 (Rangga Tranggana/daulat.co)

“Selain itu NA juga diduga menerima uang dari kontraktor lain, yakni pada akhir tahun 2020, NA menerima uang sebesar Rp 200 juta, pertengahan Februari 2021, NA melalui SB (ajudan) menerima uang Rp 1 miliar, dan awal Februari 2021, NA melalui SB menerima uang Rp 2,2 miliar,” terang Firli.

Agung diketahui telah lama kenal baik dengan Nurdin yang berkeinginan mendapatkan beberapa proyek pekerjaan infrastruktur di Sulawesi Selatan. Terlebih, Agung sebelumnya telah mengerjakan beberapa proyek di Sulsel.

Sejak Februari 2021, telah ada komunikasi aktif antara Agung dengan Edy Rahmat sebagai representasi dan sekaligus orang kepercayaan Nurdin Abdullah untuk bisa memastikan agar Agung bisa mendapatkan kembali proyek yang diinginkannya di tahun 2021.

Dalam beberapa komunikasi tersebut, diduga ada tawar menawar fee untuk penentuan masing-masing dari nilai proyek yang nantinya akan dikerjakan oleh Agung Sucipto.

Pada Februari 2021, ketika Nurdin Abdullah sedang berada di Bulukumba bertemu dengan Edy Rahmat dan juga Agung yang telah mendapatkan proyek pekerjaan Wisata Bira. Dalam pertemuan itu, Nurdin menyampaikan pada Edy Rahmat bahwa kelanjutan proyek Wisata Bira akan kembali di kerjakan oleh Agung.

Nurdin kemudian memberikan persetujuan dan memerintahkan Edy untuk segera mempercepat pembuatan dokumen DED (Detail Engineering Design) yang akan dilelang pada APBD 2022. Pada akhir Februari 2021, ketika Edy bertemu dengan Nurdin disampaikan bahwa fee proyek yang dikerjakan Agung di Bulukumba sudah diberikan kepada pihak lain. Nurdin saat itu mengatakan yang penting operasional kegiatan tetap bisa di bantu oleh Agung. 

“Agung selanjutnya pada tanggal 26 Februari 2021 diduga menyerahkan uang sekitar Rp 2 miliar kepada NA melalui ER,” kata Firli.

Usai Edy menerima suap dari Agung, terjadilah operasi tangkap tangan. Dalam OTT tersebut tim penindakan mengamankan uang Rp 2 miliar di sebuah koper di rumah dinas Edy.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

KPK Jebloskan Tersangka Gubernur Sulsel ke Rutan Pomdam Jaya Guntur

Read Next

Anggota Dewas KPK Artidjo Alkostar Tutup Usia, Dimakamkan di Situbondo