24 May 2024, 02:29

Cukai Rokok Bakal Naik, Petani Terus Mengalami Tekanan

Petani Tembakau - ist

Petani Tembakau – ist

daulat.co – Pemerintah sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Sri Multani Indrawati akan menaikkan cukai rokok atau Cukai Hasil Tembakau mulai 1 Februari 2021. Dalam aturan tersebut, Pemerintah akan mematok tambahan cukai sebesar 12,5 persen.

“Cukai tembakau setiap tahun mengalami kenaikan, sementara para petani tembakau terus mengalami tekanan akan kenaikan tersebut,” terang Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Melas (F-PKB) dalam Rapat Kerja dengan melalui video conference kemarin (27/1).

Ia menyampaikan, berdasarkan riset internal, hasil tembakau di Indonesia itu diserap oleh industri-industri kecil dan bukan industri besar. Karenanya ia memandang perlu ada insentif khusus kepada industri sehingga para petani tembakau bisa merasakan manfaatnya.

Senada, Anggota Komisi XI DPR RI Willy Aditya menyatakan kenaikan cukai sejauh ini terus dilakukan Pemerintah tetapi tidak diiringi dengan langkah penyiapan industri baru sebagai penggantinya.

Sebab 50 persen dana bagi hasil cukai tembakau yang seharusnya diarahkan untuk masyarakat, masih tidak terlihat rencana pemerintah dalam pengembangan sumber daya manusia dalam industri baru.

“Belum lagi berkenaan dengan angka prevalensi usia merokok dalam rentang 10-18 tahun, yang sering tidak terealisasi,” ucapnya.

Menurutnya, perlu ada langkah pemerintah untuk mengatasi ini sehingga alasan untuk menaikkan cukai rokok menjadi sejalan dengan kebijakan yang diterapkan. Kedepannya, pemerintah juga perlu membuat blue print arah kebijakan cukai tembakau khusus dalam optimalisasi juga sangat dibutuhkan.

Anggota Komisi XI DPR RI Didi Irawadi menambahkan, dengan adanya kenaikan tersebut justru berdampak pada meningkatnya impor tembakau dari luar negeri. Padahal tujuan dari kebijakan tersebut, pemerintah ingin melakukan pembatasan konsumsi rokok yang berdampak pada kesehatan.

“Cara-cara yang dilakukan dengan kenaikan cukai ini, belum efektif menurut saya. Pemerintah bisa melihat kebijakan yang dilakukan di negara lain, Malaysia misalnya, walaupun cukai tidak dinaikkan tetapi mereka bisa melakukan cara lain, salah satunya dengan melarang penjualan rokok batangan,’ ujar Didi.

Sementara di Indonesia, lanjut dia, tidak ada langkah-langkah lain. Bahkan perusahaan rokok besar malah pendapatannya meningkat

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam paparannya menjelaskan, kebijakan cukai memang tidak diberlakukan pada semua golongan atau tidak semua jenis rokok dinaikkan tarif cukainya.

Hanya jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Tangan (SPT) yang tarif cukainya naik. Sedangkan untuk kategori SKM cukainya naik 13,8-16,9 persen tergantung golongan, sementara untuk SPM naik 16,5-18,4 persen.

Realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai, secara keseluruhan hingga akhir 2020 mencapai jumlah senilai Rp212,8 triliun, atau minus 0,3 persen dibandingkan 2019.

Sementara penerimaan cukai sepanjang 2020 sebesar Rp176,3 triliun atau tumbuh 2,3 persen dari tahun sebelumnya. Ini terdiri dari cukai hasil tembakau (CHT) sebesar Rp170,24 triliun, etil alkohol (MMEA) hanya Rp5,76 triliun, dan etil alkohol senilai Rp240 miliar.

“Pada APBN tahun 2021, pemerintah menargetkan penerimaan cukai sebesar Rp180 triliun. Target itu terdiri atas cukai rokok Rp173,78 triliun. Sementara sisanya ditargetkan pada pendapatan cukai MMEA, cukai etil alkohol, dan penerimaan cukai lainnya sebesar Rp6,21 triliun,” ungkap Menkeu.

(Sumitro)

Read Previous

Kembangkan Suap Benur, KPK Isyaratkan Tetapkan Tersangka Baru

Read Next

Hari Ini, Struktur Kepengurusan PPP Suharso Monoarfa – Arwani Thomafi Diumumkan