25 July 2021, 06:04

Covid-19 Bukan Adzab

Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto

Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto

daulat.co – Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, menyatakan jika bangsa Indonesia dan seluruh bangsa-bangsa lain di seluruh dunia saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.

Hal itu disebabkan adanya pandemi Covid-19 yang melanda dunia lebih dari 1 tahun terakhir. Memprihatinkannya, wabah tersebut tidak tahu sampai kapan akan berakhirnya.

Menyikapi pandemi ini, kata Agung, Muhammadiyah berada pada posisi yang jelas sebagai bagian solusi dan menyakini bahwa covid-19 ini adalah virus yang berbahaya dan terbukti telah menghilangkan banyak nyawa manusia.

“Waktu pemerintah menetapkan bahwa virus corona telah masuk ke Indonesia, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, dalam minggu itu juga PP Muhammadiyah menyelengarakan rapat pleno yang diperluas,” kata Agung Danarto dilansir Muhammadiyah, Kamis 22 Juli 2021.

Rapat pleno PP Muhammadiyah disebutkan dia menghadirkan ulama Tarjih Muhammadiyah serta menghadirkan para ahli kesehatan baik yang dimiliki Muhammadiyah atau dari tempat lain.

Dari rapat pleno yang diperluas tersebut dan mendengar masukan dari para ahli, Muhammadiyah menyakini bahwa virus covid-19 ini harus ditanggulangi supaya tidak menyebar lebih luas dan membahayakan masyarakat luas.

Dalam Refleksi Milad Muhammadiyah ke 112 H yang digelar PD Muhammadiyah Bantul belum lama ini, Agung menceritakan di masa awal para pejabat publik terlalu percaya diri bahwa virus ini tidak masuk ke Indonesia. Akan tetapi hal itu tidak menggoyahkan keyakinan Muhammadiyah.

Agung menjelaskan, menyadari virus ini berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa, maka Muhammadiyah mengambil peran dalam menjaga jiwa (hifdzun nafs) sebagai implementasi maqasid al syari’ah atau maksud dan tujuan syariah. Karena menjaga jiwa itu merupakan aspek yang paling tinggi dan dhorury.

Terkait dengan cara Muhammadiyah memandang bencana, Agung menjelaskan bahwa Muhammadiyah dalam memandang bencana bukan sebagai adzab, melainkan sebagai ujian. Dalam bingkai ini, dapat dibedakan cara pandang pemahaman klasik dengan yang baru seperti Majelis Tarjih Muhammadiyah.

“Ketika Bantul gempa bumi, kemudian banyak yang meningal dunia, dalam frame klasik maka dikatakan itu merupakan adzab karena orang-orangnya banyak melakukan maksiat-pendosa semua. Tapi frame barunya adalah kehendak Allah, peristiwa alam yang selalu terjadi. Sehingga melihat itu bukan sebagai adzab, tapi sebagai ujian,” tutupnya.

(M Abdurrahman)

Read Previous

Kemenhub: Selama PPKM Darurat Mobilitas Masyarakat Alami Penurunan Signifikan

Read Next

Program Perlinsos Untuk Membantu Masyarakat Rentan Hadapi PPKM