24 February 2024, 13:48

Belajar dari Perang Paregreg, Sebuah Refleksi Sejarah Bangsa ke Depan

MELIHAT situasi geopolitik dan geostrategis di Asia Tenggara dan global saat ini, membenarkan analisa bahwa dalam politik tidak ada yang namanya istilah kawan maupun lawan abadi. Apalagi dalam politik erat kaitannya dengan kekuasaan, baik itu kekuasaan dalam sebuah negara maupun kekuasaan kawasan.

Kita bisa melihat bagaimana perang Ukraina dan Rusia yang sebelumnya sudah diprediksikan banyak pihak benar-benar terjadi, Hamas Palestina dan Israel, Taiwan yang selalu mewaspadai invasi militer dari Tiongkok.

Di negara kita, konflik atau sengketa di Natuna hingga kini juga belum menemui titik terang. Saling klaim dan tumpang tindih (nine dase line) atas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) beradu pengaruh antara China dan Amerika bersama sekutunya Australia dan United King Dom. Belum lagi pangkalan militer negara adidaya yang mengelilingi wilayah Indonesia.

Di Filipina, Presiden Marcos Jr mengijinkan dibukanya pangkalan militer di 9 titik di negaranya salah satunya di Pulau Palawan di utara Kalimantan, Darwin Australia yang berdekatan dengan Nusa Tenggara Timur, Pulau Kokos yang berdekatan dengan Sumatra, Diego Garcia di Samudera Hindia dekat ujung barat Sumatera, Berikut Singapura yang menjadi ‘pangkalan logistik’ bagi Amerika Serikat, di seberang Pulau Batam.

Melalui adagium tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik, kami menganggap bahwa sejarah masa lalu di Nusantara yakni Imperium Majapahit, sangat relevan untuk dihadirkan kembali. Khususnya pada puncak meletusnya Perang Paragreg yang menghancurkan Imperium Majapahit, medio 1400 Masehi.

*Imperium Majapahit, Sebuah Refleksi

PERANG kerap tidak bisa diprediksi kapan datang dan meletusnya. Tidak jarang perang pecah dipicu hal-hal sepele namun punya implikasi besar terhadap peradaban manusia. Seperti menjadi sunnatullah, perang dalam sejarahnya akan selalu saja muncul dengan berbagai sebab, karenanya kewaspadaan harus tetap terjaga.

Dalam kilasan perjalanan bangsa ini terdahulu, seperti tertulis dalam banyak buku sejarah, salah satu raja terbesar adalah Kerajaan Majapahit yaitu Hayam Wuruk. Ia membawa Majapahit mencapai masa kejayaan dengan menguasai Nusantara yang saat ini meliputi seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bahkan, kekayaannya merambah hingga Semenanjung Malaya. Dari Singapura, Kamboja, Filipina, Brunei Darussalam, Sebagian Thailand hingga Vietnam. Dengan kata lain meliputi hampir seluruh wilayah di Asia Tenggara. Raja Hayam Wuruk dibantu Maha Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Amukti Palapa, mempersatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Dalam kekuasaannya, Majapahit mempunyai Armada Angkatan Laut terbesar dan terkuat di Asia tenggara saat itu. Sayangnya, kekuasaan Hayam Wuruk dalam prosesnya mengalami perpecahan akibat terjadinya perebutan kekuasaan di lingkungan kerajaan. Perebutan kekuasaan itu dalam sejarahnya dikenal dengan Perang Paragreg.

Perpecahan Kerajaan Majapahit, usai wafatnya Hayam Wuruk sebagaimana ditulis dalam Kitab Pararaton, terbelah menjadi dua yakni Wilayah Barat dan Wilayah Timur. Bhre Wirabhumi memimpin Majapahit di Wilayah Timur.

Dikutip dari ‘Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Leluhur Majapahit’, Raja Hayam Wuruk diketahui mempunyai dua orang saudara perempuan yakni, Bhre Lasem yang kawin dengan Raden Larang dari Metahun dan Bre Panjang yang kawin dengan Raden Sumana yang bergelar Bre Paguhan. Perkawinan Bre Lasem dengan Bre pajang tidak melahirkan keturunan .

Kakawin Negara Kertagama juga menyinggung dua adik perempuan Dyah Hayam Wuruk tersebut yakni Bhre Lasem dan Bhre Pajang, dimana dalam Kakawin Negara Kertagama mencatat lebih jelas bahwa Bre Lasem sebenarnya adalah anak putri Daha, lahir dari perkawinan Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rahadewi Maharajasa, dengan Bhre Wengker Hyang Parameswara yang bergelar Wijaya Rajasa .

Jadi sebenarnya Bhre Lasem adalah saudara sepupu dari Raja Dyah Hayam Wuruk, Bhre Lasem bernama Rajasa duhitendu Dewi dia adalah putri tunggal Bhre Daha yang berhak menggantikan ibunya Dyah Wiyat Sri Rahadewi, sebagai Bre Daha. Sedangkan Bhre Pajang kawin dengan Sri Singawardana dari Paguhan.

Oleh karena Empu Prapanca, pengarang Kitab Nagara Kertagama yang hidup pada saat zaman Raja Dyah Hayam Wuruk kiranya uraian sejarahnya lebih bisa diterima dan dipercaya dari pada uraian Pararaton. Namun pada hakekatnya uraian Nagara Kertagama dan Pararaton itu dalam banyak hal saling melengkapi satu dengan yang lain.

Menurut catatan dalam Pararaton dari perkawinan Bhre Pajang dan Singawardana dari Paguhan lahir Raden Gagak sali alias Aji Wikrama atau Wikrama Wardhana yang bergelar Bhre Mataram .

Sementara dalam Negara Kertagama , Bre Lasem kawin dengan Bre Wrabhumi putra dari Dyah Hayam Wuruk dari selir (Binihaji) , sedang kan Bre Kahuripan yang kemudian kawin dengan Raden Sumirat alias Bhre pandan alas.

Pararaton menyatakan bahwa Bhre Wirabumi diaku putra oleh Bhre Daha, yang dimaksud dengan Bhre Daha disini bukan Dyah Wiyat Sri Rahadewi, bibi dari Dyah Hayam Wuruk, karena Dyah Wiyat hidup dua generasi lebih tua. Akan tetapi Rajasa Duhitandu Dewi, karena perkawinannya dengan Bhre Matahun tidak membuahkan keturunan. Dyah Wiyat Sri Rahadewi wafat pada tahun 1371 dibuatkan candi di Adilangu. Nama candinya Bukit Purwawisesa.

Kiranya sepeninggal Bhre Daha Dyah Wiyat Sri Rahadewi tersebut, Rajasa Duhitendu Dewi berpindah dari Lasem ke Daha. Berkat perpindahan tersebut ia bergelar Bhre Daha, Rajasa Duhitundudewi ialah putri tunggal yang berhak menguasai tahta kerajaan Daha.

Pada waktu itu ayahnya Sri Wijaya Rajasa yang bergelar Bhre Pamotan Hyang Parameswara masih hidup dan menguasai Kerajaan Timur yang beribukota di Pamotan. Bhre Pamotan Hyang Parameswara wafat pada tahun 1338 M, satu satunya pewaris Kerajaan Timur ialah Bhre Daha Rajasa Duhitundadewi, ibu angkat dari Bhre Wirabumi.

Sejak tahun 1388 M, Rajasa Duhitundadewi berpindah dari Daha ke Pamotan, sedangkan Bhre Wirabumi secara resmi menjadi Bhre Daha. Dalam berita dari Pengembara Tiongkok disebutkan Bhre Wirabhumi itu disebut Put Ling Ta ha translate China dari Putri Daha atau Bhre Daha.

Berkat pengangkatannya sebagai putra Bhre Daha, Bhre Wirabhumi berhak mewarisi kerajaan majapahit sebelah timur, yang sejak tahun 1388 dikuasai Bre Daha Rajasaduhitjndadewi. Tidak mengherankan jika pada tahun 1403 berita China itu menyebut Bhre Wirabhumi yang sejak tahun 1388 menjadi Bhre Daha, penguasa kerajaan Timur.

Bhre Daha (Put Ling Ta Ha) pada tahun itu mengirim utusan ke negeri China untuk meminta pengakuan dari Kaisar Yunglo , dari situlah Bre Wirabhumi dapat menjadi penguasa Timur yang telah dirintis oleh Hyang Parameswara Wijaya Rajasa sejak tahun 1377.

Bahwa kekuasaan Majapahit mengalami kemunduran dan pecah menjadi dua wilayah disebabkan oleh tiadanya raja yang disegani dan berwibawa saat itu. Kedua akibat tiadanya Mahapatih atau Perdana Menteri sekaliber Gajah Mada untuk membantu pemerintahan yang ada. Ketiga karena terjadi perang Paragreg atau perang saudara yang saling mengklaim lebih berhak berkuasa, karena tidak adanya keturunan dari Hayam Wuruk saat itu.

Sejarah mencatat, meletusnya perang paregrek dalam kekuasaan internal Majapahit diduga kuat akibat dari pengakuan kedaulatan dari Dinasti Tiongkok saat itu pada medio tahun 1400 Masehi oleh Kaisar Yung Lo, dari Dinasti Ming. Dinasti Tiongkok memberikan stempel berlapis emas sebagai pengakuan resmi kedaulatan atas Istana Majapahit Timur, yang mana utusan Tiongkok saat itu dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho.

Saat itu dikatakan bahwa pada tahun 1405 M , Laksamana Cheng Ho berkunjung kepada Bhre Wirabumi di Istana Majapahit Timur. Dan, atas dasar pengakuan kedaulatan sepihak itulah maka Istana Majapahit Barat yang Rajanya Bhre Wirakrama Wardhana tidak terima dan menyerbu satu tahun kemudian sejak Laksamana Cheng Ho berkunjung.

Tarikh yang ditulis oleh utusan China Tiongkok sama dengan yang tertulis dalam Pararathon. Peristiwa perang saudara yang dikenal dengan Perang Paragreg itulah menjadi pemicu runtuhnya kekuasaan Majapahit di kemudian hari.

Bagi penulis, sangat penting bagi kita untuk tidak melupakan sejarah bagaimanq Perang Paregreg bisa pecah sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan Bangsa Indonesia. Perang Paregreg dapat menjadi pembelajaran kita dalam mengambil kebijakan dalam politik hukum agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi dimasa kini.

Bahwa kebesaran suatu bangsa akan mengalami siklus naik turunnya kekuasaan berdasarkan Tjokro Manggilingan atau siklus tiga ratus tahunan. Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya Kertarajasa mengalami hal tersebut. Penulis meyakini, hal itu terjadi juga pada kekuasaan dari imperium-imperium besar di belahan bumi lainya.

Kita berdoa Semoga Tuhan yang Esa akan memberikan siklus tersebut kepada negeri tercinta Indonesia ini. Dilahirkan pemimpin yang besar yang akan membawa kejayaan dan dihormati dunia internasional menuju masyarakat adil makmur, gemah ripah loh jinawe, toto tentrem kerto rahardjo.

Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.

Jakarta, 6 Januari 2024

Agus Widjajanto Suryo Projo
Praktisi hukum dan pemerhatu sejarah budaya, politik dan hukum.

Read Previous

Bawaslu Diminta Investigasi Surat Suara Simulasi Yang Cantumkan Dua Paslon Pilpres 2024

Read Next

Pemerintah Beri Kesempatan Bagi Talenda Muda Indonesia Dengan Buka Rekrutmen CASN 2024