29 May 2024, 13:29

Bebas Murni, Nazaruddin Kini Berstatus Eks Terpidana Korupsi

daulat.co – Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin telah selesai menjalani cuti menjelang bebas (CMB). Kini, suami Neneng Sri Wahyuni itu telah menyandang status bebas murni.

Demikian disampaikan Kabag Humas Ditjen PAS, Rika Aprianti dikonfirmasi, Kamis (13/8/2020). Dikatajan Rika, Nazaruddin  sudah menjalani masa penahanan dan kini sudah bebas murni.

“Iya betul hari ini Nazzarudin telah selesai menjalankan bimbingan sebagai klien program Cuti menjelang bebas. Saat ini statusnya bebas murni,” kata Rika Aprianti.

Diketahui, Nazaruddin sebelumnya mendapat pembebasan bersyarat dari Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, sejak Minggu, 14 Juni 2020. Kebebasan Nazaruddin tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Nomor PAS-738.PK.01.04.06 bertanggal 10 Juni 2020.

Muhammad Nazaruddin diketahui mendapatkan remisi 49 bulan selama menjalani masa hukumannya. Selain remisi tersebut, Nazaruddin juga mendapatkan program Cuti Menjelang Bebas (CMB) sehingga ia bisa keluar lembaga pemasyarakatan pada Minggu (14/6/2020).

Nazaruddin diketahui divonis dalam dua kasus korupsi berbeda. Dari dua kasus berbeda itu, total masa hukuman Nazaruddin adalah 13 tahun penjara.

Adapun vonis pertama, mantan anggota DPR itu pada 20 April 2012 divonis 4 tahun 10 bulan penjara dan denda Rp 200 juta oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Saat itu, Nazaruddin dinilai terbukti menerima suap sebesar Rp 4,6 miliar yang diserahkan mantan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris kepada dua pejabat bagian keuangan Grup Permai, Yulianis dan Oktarina Fury.

Nazaruddin selain itu juga dinilai memiliki andil membuat PT DGI, yang kini berubah nama menjadi PT Nusa Konstruksi Enjiniring untuk memenangkan lelang proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games 2011 dan Gedung Serba Guna Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Kemudian Mahkamah Agung memperberat hukuman Nazaruddin, dari 4 tahun 10 bulan penjara dan denda Rp 200 juta menjadi 7 tahun penjara dan Rp 300 juta.

Saat menjalani masa hukuman tersebut, Nazaruddin kembali divonis pada 15 Juni 2016 atas kasus gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang. Nazaruddin divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan penjara.

Terkait perkara itu, Nazaruddin terbukti menerima gratifikasi dari PT DGI dan PT Nindya Karya untuk sejumlah proyek di bidang pendidikan dan kesehatan, yang jumlahnya mencapai Rp 40,37 miliar.

Dari uang tersebut, Bos Permai Grup itu salah satunya membeli saham PT Garuda Indonesia sekitar tahun 2011, menggunakan anak perusahaan Permai Grup.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Masuk Pusaran Korupsi, Keluarga Walikota Ade Uu Ikut Bancak Proyek PUPR Banjar

Read Next

Bersama Fadli dan Fahri, Ini 53 Tokoh Terima Bintang Jasa dan Bintang Kehormatan