11 April 2021, 11:47

Anggota Dewas KPK Artidjo Alkostar Tutup Usia, Dimakamkan di Situbondo

daulat.co – Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Artidjo Alkostar tutup usia pada Minggu (28/2/2021) siang. Rencananya jenazah almarhum akan dikebumikan di Situbondo, Jawa Timur.

“Nanti kita siapkan akan rencana dibawa dimakamkan keluarga di Situbondo, itu keputusan pimpinan KPK dan Dewas,” ucap Ketua KPK Firli Bahuri di rumah duka di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (28/2/2021).

Sebelum dikebumikan, kata Firli, almarhum rencananya bakal disemayamkan di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. “Almarhum akan disemayamkan ke RS Polri karena disana sudah siap,” ujar dia.

Mewakili lembaga antikorupsi, Firli meminta kepada seluruh masyarakat untuk mendoakan Artidjo. Firli berharap prinsip antikorupsi yang selama ini dianut Artidjo dapat memberikan suntikan semangat bagi masyarakat maupun insan KPK.

“Kita akan mendoakan beliau supaya dilapangkan jalan ke surga, berdoa dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan semangat beliau memberantas korupsi kita jadikan untuk semangat kita semua,” tutur Firli.

Nama Artidjo sendiri sudah sangat dikenal di ranah hukum. Dia merupakan mantan Hakim Agung yang pensiun pada 2018 lalu saat berusia 70 tahun. Pria kelahiran Situbondo 22 Mei 1948 ini dikenal sebagai hakim agung yang keras terhadap koruptor.

Dikutip dari laman resmi KPK, Artidjo memulai kariernya sejak mendapat gelar sarjana dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) pada 1976. Dia mendedikasikan diri menjadi dosen di universitas yang sama dan menjadi advokat di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta sejak 1976-2000 hingga akhirnya dipilih menjadi Direktur LBH Yogyakarta pada 1989.

Pada 1989, Artidjo berangkat ke New York, Amerika Serikat untuk mengenyam pelatihan khusus pengacara bidang Hak Asasi Manusia di Columbia University. Dia juga menempuh pendidikan di fakultas Hukum Nortwestern University Chicago dan lulus di tahun 2002. Artidjo melanjutkan studi S3 di Universitas Diponegoro Semarang dan mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hukum di tahun 2007.

Kemudian Artidjo bekerja sebagai pengacara di Human Right Watch divisi Asia pada tahun 1989-1991. Sepulangnya dari AS, Artidjo mendirikan kantor hukum Artidjo Alkostar and Associates hingga kantor itu harus ditutup pada tahun 2000 karena dirinya diminta menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung RI.

Selama 14 tahun menjadi Hakim Agung, Artidjo juga dipilih menjadi Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung sejak tahun 2014. Artidjo purnatugas dari Mahkamah Agung pada 22 Mei 2018 dan sudah menangani 19.483 perkara sepanjang karirnya.

Artidjo dikenal sebagai hakim agung yang ditakuti oleh koruptor. Tak heran, dia tercatat kerap kali memperberat hukuman para koruptor di tingkat Mahkamah Agung (MA). Banyak koruptor sudah merasakan ketukan palu Artidjo.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

Dari Kontraktor, Gubernur Nurdin Diduga Terima Suap & Gratifikasi Hingga Rp 5,4 Miliar

Read Next

Investasi Miras Tidak Sejalan Dengan Revolusi Mental Jokowi, PTDII Desak Wapres Buka Suara