Waspada Investasi Bodong Berkedok Koperasi

Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno bersama Direktur Analis dan Forensik Badan Intelejen Negara (BIN) Linardi Utama dalam pertemuan membahas kejahatan investasi berkedok koperasi di Kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Rabu (6/2/2019)

Daulat.co – Deputi Bidang Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM Suparno mengakui banyak penipuan investasi berkedok koperasi. Beberapa kasus penipuan berkedok koperasi melalui fasilitas SMS. Diantaranya menyangkut nama KSP Nasari, KSP Utama Karya, dan KSP Anugerah.

Demikian disampaikan Suparno dalam sebuah pertemuan membahas kejahatan investasi berkedok koperasi, di Jakarta, Rabu (6/2/2019). Banyaknya penipuan itu diketahui dari laporan dari masyarakat yang masuk. Suparno memastikan hal itu merupakan penipuan yang menggunakan nama koperasi.

“Saya pastikan itu bukan koperasi, hanya berkedok atau atas nama koperasi tapi tidak menjalankan prinsip-prinsip perkoperasian yang baik dan benar. Yang disasar mereka adalah masyarakat yang memiliki kebutuhan konsumtif dengan cara yang mudah dan cepat namun tanpa kontrol,” kata Suparno.

“Oleh karena itu, saya mengajak seluruh masyarakat agar tidak terkena penipuan berkedok koperasi tersebut,” ditambahkan Suparno.

Dalam pertemuan yang dihadiri unsur dari Badan Intelejen Negara (BNI) dan Bareskrim Mabes Polri, Suparno mengatakan, pihaknya butuh langkah pencegahan dan penanganan agar kasus penipuan seperti itu tidak meluas di masyarakat.

“Bayangkan saja, ada sekitar KSP dan USP yang jumlahnya mencapai 79.543 unit atau 52,62% dari total jumlah koperasi di Indonesia. Suka atau tidak suka, koperasi yang bergerak di sektor simpan pinjam amat rawan untuk disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggungjawab,” ujar Suparno.

Pihaknya, lanjut Suparno, akan lebih meningkatkan kinerja dari Satgas Waspada Investasi yang ada di seluruh Indonesia. Saat ini, kata Suparno, sudah ada 13 Kementerian/Lembaga yang masuk dalam jajaran Satgas Waspada Investasi, termasuk Bareskrim Mabes Polri.

“Untuk mencegah money laundry, kita sudah bekerjasama dengan PPATK. Kita sudah mewajibkan koperasi untuk melapor bila menerima dana dalam jumlah besar yang diduga dalam transaksi mencurigakan. Kita juga sudah bekerjasama dengan BNPT (Badan nasional Penanggulangan Teroris) agar koperasi tidak dijadikan sebagai wadah pendanaan terorisme di Indonesia,” tandas Suparno.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Analisa dan Forensik Siber (Deputi Intelejen Siber) BIN Linardi Utama mengatakan, pihaknya bertugas mendeteksi awal kejahatah di bidang siber yang memiliki dampak berskala nasional. Linardi juga mengingatkan, lokasi pelaku kejahatan siber itu tidak hanya di dalam negeri saja, juga banyak tersebar di luar negeri.

Linardi menambahkan, ada beberapa modus kejahatan siber yang bisa terjadi di seluruh dunia. Seperti penyebaran virus, spam, trojan, ransom, phising, hingga terkuat adalah hacking. Pelaku kejahatan siber, lanjut Linardi, biasanya amat terencana, bertahap mengincar calon korban, dan sistematis.

“Jumlah koperasi di Indonesia sangat banyak dengan jumlah anggota sangat besar. Saya menghimbau pelaku koperasi dan UKM menyadari betapa pentingnya pengamanan data agar tidak disalahgunakan pelaku kejahatan siber. Kita harus waspada karena Indonesia itu urutan keempat dunia untuk masalah kejahatan siber. Yang kerap banyak terjadi di Indonesia adalah modus phising, dimana pelaku kejahatan siber mencuri akun target. Biasanya mereka membuat website perusahaan palsu, biasanya website perbankan, untuk mengelabui si korban. Sehingga, mereka sulit dilacak keberadaannya. Oleh karena itu, kita harus menyadari dan tahu akan ancaman tersebut, harus tahu aset yang harus dilindungi, dan paham apa kelemahan kita,” ucap Linardi.

Disisi lain, Linardi meyakini bisnis koperasi di Indonesia akan bertransformasi ke era digital ekonomi. “Ketika kita masuk ke dunia ekonomi digital, kita juga harus sadar akan bahaya kejahatan siber yang mengancam di depan. Kita harus mampu membaca gejala seperti itu, agar kita segera mampu mengatasi dan mengantisipasi,” kata Linardi.

(Rangga Tranggana)