Ulama se-Tangerang Raya Desak Penertiban Ormas Terlarang

Daulat.co – Ulama se-Tangerang Raya membuat pernyataan sikap terkait dugaan masih adanya embrio aktivitas organisasi kemasyarakatan (ormas) terlarang di Indonesia.

Pernyataan sikap Ulama se-Tangerang Raya itu dibuat di Pondok pesantren Roudhotussalam, dan diiringi doa memohon kepada Allah SWT, serta pembacaan sejuta Hizib Nashor untuk keselamatan NKRI. Termasuk juga ijazah kubro dengan dipimpin oleh Abuya Muhtadi Dimyathi.

Pernyataan sikap ulama se-Tangerang Raya (Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang) ini akan disampaikan kepada Kemendagri dan Kapolri.

Berikut isi pernyataan sikap yang diterima daulat.co:

1.Menyatakan bahwa Ulama seTangerang raya mendukung Polri dan Kemendagri untuk menertibkan setiap organisasi terlarang berikut dengan atribut dan simbol -simbol yang melekat padanya sesuai perundang undangan yang berlaku.

2. Menolak kegiatan yang mempolitisasi simbol simbol agama untuk kepentingan pribadi atau organisasi manapun sebab simbol agama itu suci dan harus ditempatkan pada tempat yang suci juga.

3. Mengajak kepada ex Hizbut Tahrir Indonesia untuk bertaubat dan cinta tanah air dan pangkuan bumi Pertiwi karena HTI telah menthogutkan/mengkafirkan sistem demokrasi dan segala yang lahir dari produk demokrasi berarti sama saja HTI mengkafirkan Pancasila ,UUD 1945 ,DPR/MPR, Presiden dari sistem demokrasi.
– HTI telah memanipulasi hadist bendera Liwa dan royah yang bertuliskan kalimat tauhid sebagai Panji benderanya Rasulullah SAW padahal hadist tersebut adalah dhoif/lemah.
– Bendera HTI yang bertuliskan kalimat tauhid dan dikatakan bendera Rasulullah yang dikibarkan dalam setiap aksi demonya adalah suatu kebohongan publik , kebohongan terhadap ummat Islam.
– HTI membohongi publik dengan tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya,tapi oleh HTI liwa dan royah telah dizolimi dan dinistakan karena Liwa dan royah dikibarkan dalam kondisi berperang atau penaklukan bukan dikibarkan dluar konteks nya yaitu pada kondisi negara yang nyaman dan dalam keadaan damai.
-Bahwa yang dikibarkan bukanlah bendera Rasulullah tapi bendera HTI .

4. Menghimbau kepada kaum muslimin Indonesia baik itu Kiai , Ustadz , ulama ulama di pelosok desa ataupun kota untuk mengkaji secara utuh dengan mencari dalil atau rujukan hukum kepada yang ahli pada bidangnya pada setiap persoalan yang berkembang saat ini.

Dan tidak menjadikan media sosial share WhatsApp, Facebook dan sejenisnya yang menjurus kepada fitnah, penghinaan, cacian , ghibah, hoaks sebagai dalil argumentatif dari persoalan sosial agama dan bangsa.

5. Menghimbau kepada warga bangsa kami menyerukan untuk setia kepada UUD 1945,Pancasila dan sistem pemerintahan yang dirumuskan oleh founding fathers bangsa.Pancasila dan UUD 1945 sejatinya merumuskan nilai nilai luhur bangsa dan juga nilai nilai luhur agama.

(M Sahlan)