TKN Jokowi: Soal Budek dan Buta, Kiasan tentang Ajaran Islam untuk Bersikap Obyektif dan Adil

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Kiai Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding di Rumah Cemara 19, Menteng, Jakarta.

Daulat.co – Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding menegaskan, pernyataan Cawapres Nomor Urut 01 Kiai Ma’ruf Amin yang mengatakan bahwa masyarakat jangan buta dan budek adalah sebuah ajakan untuk bersikap obyektif dan adil.

“Pernyataan Kiai Ma’ruf soal budek dan buta, itu sebenarnya bahasa yang biasa dipakai semacam kiasan agar masyarakat  mudah mengerti, mudah memahami karena itu kiasan yang sangat biasa sehari-hari,” ujar Karding kepada wartawan, Minggu (11/11/2018).

Karding menjelaskan, istilah yang dipakai Kiai Ma’ruf itu juga biasa disampaikan sebagai pengingat bagi umat Islam. Bahkan ada doa yang hampir setiap habis sholat fardu dibaca, yang artinya tunjukkan pada kami yang benar itu benar agar kami bisa menjalankannya. Dan tunjukkan yang salah itu salah dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

“Bahkan di Al-qur’an ada satu yang sering kita pakai sebagai doa, yaitu artinya katakanlah bahwa yang benar itu benar yang bathil itu batil atau yang salah itu salah,” tegas Karding.

Politikus PKB ini menegaskan, peringatan Kiai Ma’ruf ini disampaikan karena selama ini narasi-narasi yang banyak dibangun pihak oposan yang ada di luar pendukung Jokowi itu seakan-akan tidak mengakui prestasi kerja pemerintahan Jokowi selama ini.

Dikatakan Karding, para oposan pendukung Prabowo-Sandiaga Uno tak mau mengakui fakta bahwa ada prestasi Jokowi di bidang infrastruktur, ada prestasi jaringan pengaman sosial, KIS, PKH, KIP, bantuan nontunai.

“Kemudian ada prestasi kemiskinan menurun, ada prestasi ketimpangan menurun, ada prestasi keadilan semakin tegak nyata bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama pembangunan daerah terdepan terluar. Pembangunan desa yang masif. Kelurahann dan sebagianya. Semua prestasi Pak Jokowi ini tidak diakui,” tegas Karding.

Menurut Karding, pihak yang tak mau mengakui kenyataan adanya banyak prestasi Jokowi itu termasuk orang yang tidak bisa bersikap adil. Padahal dalam Islam ada penegasan agar jangan sampai ketidaksukaan pada seseorang membuat kita berbuat tidak adil.

“Artinya Kiai Ma’ruf ingin mengajak masyarakat khususnya para oposan itu untuk berlaku adil. Untuk obyektif, untuk kira-kira sebesar apa pun ketidaksenenganmu pada seseorang tapi jangan sampai engkau berlaku tidak adil kepadanya,” jelas Karding.

“Itu juga makna-makna yang sering disempaikan dalam Al-Qur’an satu misal. Itulah kira-kira masyarakat supaya menyatakn yang sejujurnya. Maka bahasa yang pas dipakai, bahasa yang paling mudah menyampaikan ke rakyat bahwa orang-orang seperti itu namanya budek dan buta,” tuntas Karding.

(M Sahlan)