TKN Jokowi: Enggak Nyambung Hubungkan Indonesia dengan Penahanan Habib Riziek di Arab Saudi

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Kiai Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding di Rumah Cemara 19, Menteng, Jakarta.

Daulat.co – Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Kiai Ma’ruf Amin menilai ada dua faktor terkait penangkapan imam besar ormas Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Faktor pertama, kata Karding, adalah karena pengibaran bendera yang bertuliskan lafad La Illa ha Illallah itu yang sesungguhnya adalah dalam perspektif dan pengertian kerajaan Arab Saudi merupakan bendera ISIS. Bendera teroris.

“Itu artinya, di negara Arab saja mereka resisten terhadap bendera yang tertulis seperti itu. Tentu ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Indonesia sama dengan di Arab. Di Arab saja menolak, tentu di negara kita juga seperti itu,” ujar Karding.

Kedua, Karding melanjutkan, penangkapan itu terkait masalah izin tinggal yang overstayed. Artinya, masa visa beliau sudah habis dan melewati batas waktunya.

“Karena itu harus diberi sanksi atau harus ditangani pemerintah Arab,” terang Karding.

Ketika ditanya, apakah penangkapan Habib Rizieq itu akan memunculkan aksi dalam Indonesia? Karding menilai tak akan ada aksi, karena memang tak ada hubungannya antara penangkapan atau pemeriksaan Habib Rizieq di Makah dengan Indonesia.

“Itu urusan dalam negeri kerajaan Arab. Akan menjadi aneh kalau dihubungkan dengan Indonesia,” lanjut Karding.

Menurit Karding, yang benar justru pemerintah Indonesia lewat kedutaan Arab Saudi melakukan upaya pendampingan dan komunikasi dengan pemerintahan atau pihak berwenang di Kerajaan Arab Saudi agar Habib Rizieq ditangani dan syukur-syukur diberi kemudahan dalam penanganan.

“Kalau ada yang demo di Indonesia, itu tentu judulnya salah sambung, karena engga ada hubungannya. Engga ada hubungannya sama sekali. Itu yang harus kita pahami. Sekali lagi, penahanan beliau karena terkait dengan pemasangan bendera yang kebetulan ada tulisan la illa ha illallah dan itu dipersepsi Kerajaan Arab sebagai bendera teroris,” tuntas Karding.

(M Sahlan)