26 May 2020, 07:32

Tim Gali Kubur Pun Kabur

WABAH pandemi virus corona di berbagai daerah di Indonesia membuat banyak pihak gagap. Bukan hanya kesimpangsiuran informasi, gagap juga nyaris terjadi pada berbagai aspek penanganannya.

Di Pemalang misalnya. Kegagapan yang pada awalnya lamat-lamat, kian terasa. Bukan hanya Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 di tingkat kabupaten, melainkan di tingkatan bawahnya dari kecamatan hingga desa dan kelurahan juga gagap.

Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Pemalang mengakui hal tersebut. Contoh yang mengemuka dan diketahui publik adalah penunjukan Gedung PGRI Pemalang sebagai tempat isolasi pasien corona.

Awal bulan ini, penunjukan tempat isolasi yang terletak di Jalan DR Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang memunculkan gelombang penolakan dari masyarakat sekitar. Setelah menggelar aksi, mereka ‘nglurug’ ke Posko Gugus Tugas.

Tim Gugus dihadapkan dengan perlunya tindakan cepat. Ruang isolasi di RSUD dr M Azhari belum selesai, namun jumlah pasien terus bertambah. Gedung PGRI Pemalang kemudian menjadi alternatif ‘mendesak’ yang diambil Tim Gugus.

Sebenarnya, banyak permasalahan lain di daerah yang terkenal dengan tagline ‘Pusere Jawa’ ini. Yang, langsung atau tidak langsung membutuhkan tindakan cepat dalam menangani pandemi corona. Satu sisi harus memberikan pemahaman ke masyarakat, satu sisi harus menanggulangi penyebaran Corona sekaligus.

Alkisah, ada pasien corona di salah satu kecamatan di Pemalang meninggal. Informasinya berkembang sangat cepat. Baik mulut ke mulut, maupun melalui jaringan sosial media dan grup-grup whatsapp. Mendapati kabar tersebut, warga menolak jenazah tetangganya itu dimakamkan di pesarehan desa setempat.

dok Tim Gugus Tugas Pemalang

Tim Gugus, camat hingga kades dan aparat keamanan pun turun tangan. Setelah berdiskusi panjang dan memberikan pengertian, warga akhirnya menerima. Clear. Warga menerima pasien dimakamkan di pesarehan desa setempat.

Lalu, jenazah pun dibawa oleh tim medis mengenakan Alat Pelindung Diri (APD). Lengkap. Suara sirine ambulans membuat warga merinding. Dalam hati menolak, tapi sudah diminta pengertiannya untuk menerima. Tetapi, ceritanya bukan disitu.

Di pesarehan, tim dihadapkan permasalahan genting. Liang lahat belum mencapai kedalaman sebagaimana standar atau protap kesehatan penanganan jenazah corona. Jenazah keburu datang, tim inti kabur. Ya, tim gali kubur kabur.

Tim gali kubur takut terpapar corona. Tim ini meski sudah diberi pengertian bahwa pemusaraan jenazah sudah dilakukan maksimal dan menutup celah kemungkinan penyebaran Corona dari jenazah, masih terbawa rasa takut.

Tim Gugus Kabupaten, Kecamatan dan Desa pun akhirnya turun tangan. Anggota tim yang diketahui merupakan pimpinan di salah satu dinas di Pemkab Pemalang turun langsung bersama pejabat lainnya. Mengambil cangkul dan mulai menggali liang lahat.

Anggota polisi dan tentara yang ikut mengamankan prosesi pemakaman, ikut turun. Beberapa anggota satgas salah satu ormas Islam belakangan juga turun.

Penolakan warga terhadap pemakaman jenazah pasien corona berlanjut. Tidak hanya terjadi di satu tempat. Penolakan juga terjadi di desa lain. Hal ini membuat Tim Gugus melakukan kajian cepat dan membuat kebijakan yang bersifat instruktif.

Kepada kepala desa, diinstruksikan untuk membentuk tim gali kubur. Tim yang memang dipersiapkan untuk memakamkan jenazah pasien corona. Bukan hanya pada saat menggali, dimana jenazah belum datang ke pesarehan, namun sampai akhir penimbuhan.

Instruksi dari orang nomor satu di Kabupaten Pemalang disampaikan per tanggal 19 April 2020. Berapa personel tim gali kubur, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing desa. Sebab ini berkaitan dengan honorarium dari APBDes.

Sekian

Sumitro, redaktur daulat.co

Read Previous

Kemenperin Harus Mulai Pikirkan Langkah Recovery Dunia Industri

Read Next

Rumah Semi Permanen Ludes Dilalap Si Jago Merah di Belik