Terus Difitnah, Kenapa Cak Nanto Diam?

BELUM genap setahun kepemimpinan Cak Nanto (panggilan akrab untuk Sunanto, Ketum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah). Berbagai kegaduhan dihasilkan dari tuduhan titipan istana, mempersoalkan aksi 212, sampai yang terakhir dianggap setuju dengan penghapusan kata kafir.

Seolah setiap kali Cak Nanto mengemukakan pendapatnya, disaat itu juga ada kontroversialnya. Kontroversi yang tidak jarang dibarengi dengan hujatan, makian dan bullying fisik yang kasar.

Kemarin sore, ditengah kegaduhan medsos yang meghujatnya. Saya putuskan untuk menelpon dia. Rasanya aneh saja, setiap ada tuduhan bahkan hujatan, seolah Cak Nanto diam saja. Padahal tidak susah bagi dia membuat klarifikasi terkait pendapatnya yang seolah digesting berbeda dengan aslinya.

“Cak, kok sampean diam saja. mbok kasih klarifikasi, minimal di medsos?”

Dengan gaya santainya dia menjawab dengan santainya. Khas gaya Cak Nanto yang menunjukkan kematangannya.

“Santai lek, saya tidak ingin berdebat dengan apa yang sebenarnya tidak saya maksudkan. Berdebat secara keras hanya menambah kebisingan dan saya tidak ingin berhadap-hadapan dengan sesama saudara Muslim”

Kata Cak Nanto, hujatan dan cacian di medsos akan menjadi penyemangat kita, untuk tetap mengendarai roda organisai sesuai khittah Muhammadiyah. Jika kami terus berupaya mencounter ujaran di medsos, itu akan menghabiskan energi dakwah kita.

“Saya menyadari ada upaya menggiring ke sentimen negatif atas apa yang saya ucapkan dipublik. Saya bisa saja membalasnya, tapi itu tidak saya lakukan”

“Segala hal, jika berawal dari kebencian, hanya akan berakhir dengan kekacauan. Kebencian itu bukan wataknya orang Islam. Mari berdialog. Saya terbuka untuk itu, kita sisihkan kebencian”

Cak Nanto tenyata tidak berubah. Sama seperti yang saya kenal bertahun-tahun. Tenang dan seolah tidak ada rasa sakit hati. Semoga tetap diberi kekuatan Cak. Pimpin PPPM dengan gayamu Cak !

A Hidayat
Adik Panti Cak Nanto dan Dosen di salah satu PTM