Temu Alumi Pemuda Muhammadiyah, Cak Nanto dan Jajaran ‘Ngangsu Kaweruh’ Dari Para Senior

KADER Pemuda Muhammadiyah (PM) dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) umumnya hendaknya tidak berfikiran praktis, apalagi pragmatis, dalam menjalankan roda organisasi.

Kader Muhammadiyah harus tetap mempunyai karakter dan integritas yang tinggi. Dengan begitu, dalam perjalanannya yang penuh tantangan tidak jatuh, tidak terjerembab, dalam lobang yang membuatnya sulit terbangun.

“Sebagai orang tua saya berpesan, bagi yang terjun ke dunia ke politik, jadilah politisi yang negarawan. Yang jadi komisioner, jadilah komisioner yang mampu dan hebat. Jadilah teladan yang berkarakter sebagaimana ciri Muhammadiyah,” kata Fajrul Hamidi.

Pesan senior PM Bengkulu yang kini menjabat Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Bengkulu itu ditujukan kepada seluruh kader Angkatan Muda Muhammadiyah. Utamanya jajaran Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, baik di pusat maupun di daerah.

Disampaikan dalam Temu Alumni Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia dengan tema “Bersama Membangun Bangsa” di Kantor Pemerintah Propinsi Bengkulu, Kota Bengkulu, Jumat 15 Februari 2019.

Pengalaman, pesan, kesan, dan harapan disampaikan dalam suasana hangat, penuh persaudaraan. Temu alumni dipandu Sekjen PP Pemuda Muhammadiyah Dzulfikar A Tawalla dan Sekretaris Seni Budaya, Olah Raga dan Pariwisata Bob Febrian.

Dwi Agus Sumarno, senior PM Riau yang kini menjadi Staf Ahli Gubernur Riau mengharapkan, PM baru dibawah kepemimpinan Cak Nanto solid dan mampu bekerja secara bersama-sama. Bukan hanya di tingkat internal PM, namun juga ditingkat kebangsaan.

Amirsyah Tambunan yang kini duduk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat meminta jajaran PM mampu menjaga ruhnya yakni senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dari Papua, Andi Rahman menyatakan tema besar yang diangkat dalam gelaran temu alumni harus mampu mengejawantah dalam ranah organisasi dan kebangsaan dengan tetap menggelorakan ruh Islam dan Muhammadiyah yang rahmatan lil’alamin.

“Organisasi itu akan sama-sama besar bila saling mendukung, bukan saling menelikung. Kami sudah menunjukkan di Bengkulu. Jadilah Pemuda Muhammadiyah yang mandiri, istiqomah, pekerja keras dan yang paling penting kerja tuntas,” ucap Wakil Ketua DPRD Propinsi Bengkulu Elfi Hamidy.

Pramono Ubaid Tanthowi, komisioner KPU Pusat, mengatakan, dimana pun kita berkiprah yang paling penting adalah soal integritas. Hal itu tertuang dalam pedoman induk hidup islami Muhammadiyah yang dirumuskan mulai Tanwir di Bandung dan disahkan pada muktamar di Jakarta.

“Beberapa nilai yang ditegaskan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu bersungguh-sungguh, amanah, uswah khasanah dan akhlakul karimah. Jadi, dimana pun berkiprah harus betul-bet berbeda, harus lebih baik ketika orang lain di posisi itu,” jelasnya.

Sementara Hajriyanto Y Thohari yang segera berangkat ke Lebanon setelah ditunjuk sebagai Duta Besar Lebanon berbagi pengalaman mengenai kiprahnya di organisasi Muhammadiyah  dan partai politik.

Kata dia, kader-kader Pemuda Muhammadiyah saat ini harus mampu melahirkan kader-kader umat dan bangsa. Sumbangsihnya harus lebih progresif, salah satu caranya, ketika terjun ke ranah kebangsaan harus bersungguh-sungguh.

Menurut Cak Nanto, temu alumni diselenggarakan disela-sela Tanwir Muhammadiyah ke-51 di Bengkulu bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dengan para senior dan kader-kader Muhammadiyah.

“Penting kami sampaikan bahwa Pemuda Muhammadiyah memberikan tempat, ruang dan menjadi rumah bersama bagi semua kader untuk mengaktualisasikan kemampuan,” tegasnya.

Kedua, kata putra kelahiran Sumenep itu, temu alumni sebagai sarana untuk ‘ngangsu kaweruh’ (menimba ilmu), berbagi pengalaman sekaligus dorongan bagi setiap kader meningkatkan ekonominya.

Tidak kalah penting, temu alumni merupakan sarana komunikasi bagi Pemuda Muhammadiyah 2018-2022, bahwa kepengurusan saat ini berkomitmen untuk mengorbitkan dan transformasi kader untuk umat dan kebangsaan.

“Pemuda Muhammadiyah juga akan tetap kritis terhadap berbagai permasalahan dan keresahan sosial yang dihadapi masyarakat,” pungkas Cak Nanto.

(sumitro)