22 October 2019, 20:51

Susun Kabinet Kerja Jilid II, Jokowi Diminta Dengarkan Aspirasi Publik

Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Cak Nanto

daulat.co – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Cak Nanto mengatakan penyusunan Kabinet Kerja Jilid II yang kini tinggal menghitung hari tidak sesulit pada penyusunan Kabinet Kerja Jilid I. Hal ini mengacu pada hasil dan dukungan partai politik pada Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019.

Pada Pilpres 2019, kata dia, pasangan Joko Widodo – Maruf Amin memperoleh dukungan dari parpol sudah mencapai 60 persen. Karena besaran itu pula maka pemerintah tidak perlu lagi asupan dukungan dari luar.

“Kalau dilihat dari kacamata saya, ada manuver baru partai pendukung mulai agak renggang dalam membangun konstruksi pemerintahan ke depan,” kata Cak Nanto dalam diskusi Forum Jurnalis Merah Putih bertajuk ‘Jokowi di Pusaran Kepentingan, Minta ini Minta Itu’ di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/19).

Menurut Cak Nanto, jika tidak ada opisisi maka Jokowi akan berhadapan langsung dengan rakyat. Ia lantas menyoroti manuver partai politik pendukung Jokowi, manuver yang disebutnya bisa memberatkan Jokowi dalam menyusun kabinet. Hal yang semestinya tidak terjadi.

“Masukan publik sekarang ini, tidak banyak muncul. Harusnya tidak tertutup seperti sekarang ini, nanti akan muncul riak-riak baru,” jelasnya.

Dalam penilaiannya, Jokowi mesti berdiri sendiri dalam menentukan siapa yang akan duduk di kabinet. yakni setelah mendengarkan berbagai masukan. Bukan kemudian terkesan didikte oleh pendukungnya sehingga memunculkan asumsi bahwa Jokowi tersandera oleh permainan parpol ataupun relawan pendukung.

“Sekarang yang muncul adalah, belum mulai sudah ada pertanyaan berapa kursi yang didapatkan. Nah Jokowi ingin tercatat sebagai apa, hanya sebagai presiden saja atau sebagai presiden yang berprestasi. Saya harap Jokowi tidak hanya memilih dengan komitmen politik, tapi juga harus ada dorongan publiknya,” tutup Cak Nanto. (M Sahlan)

Read Previous

Jelang Pelantikan Presiden, Menteri Terpilih Harus Mampu Memimpin

Read Next

Menag Luncurkan Buku Tentang Moderasi Beragama