Surat Terbuka Untuk Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya

Satu individu burung Sikep madu Asia (Oriental honey buzzard) melintas di langit kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat pada, Sabtu (21/10) dalam perjalanan migrasi ke beberapa wilayah di Indonesia dan beberapa negara tropis di Asia yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Tercatat sejak pagi hingga siang ini kurang lebih 1.000 individu mulai berdatangan dari wilayah asalnya yaitu Asia Timur, Siberia, dan Rusia (Foto: Dedy Istanto/daulat.co)

Kepada Yth.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI

Assalamu’alaikum,

Perkenalkan Ibu Siti Nurbaya, nama saya Swiss Winnasis. Saya bekerja di taman Nasional Baluran sebagai PEH dan baru menyelesaikan studi magister jurusan Biologi Konservasi pada Fakultas MIPA Universitas Brawijaya.

Surat terbuka ini merepresentasikan sekaligus menjadi tanggungjawab saya secara pribadi. Utamanya berkaitan dengan wacana revisi Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Daftar Jenis Flora-Fauna Dilindungi hingga lahirnya Permen LHK Nomor 20 Tahun 2018.

Pertama, saya dan mungkin semua pemerhati kelestarian hayati, melihat ini adalah sebuah kemajuan yang luar biasa dalam konservasi spesies di Indonesia. Bukan apa-apa, sebab dalam 19 tahun terakhir banyak flora-fauna kita yang tereksploitasi karena banyak jenis-jenis rawan yang belum masuk di PP 7/1999.

Khususnya kelompok burung. Mengingat burung menyumbang jenis terbanyak dalam daftar fauna dilindungi. Namun belum selesai rasa bahagia dengan lahirnya Permen LHK 20/3018, hanya 2 bulan lebih dikit umurnya tiba-tiba permen direvisi.

Di saat psikologis kami, petugas di daerah dan penggiat konservasi burung, sedang tinggi-tingginya, keputusan revisi itu benar-benar menjatuhkan mental dan semangat kami. Saya kira rekan-rekan KSDA di seluruh Indonesia tentu tahu rasanya.

Saya mengamati burung sejak tahun 1999, tepat di tahun sama dengan lahirnya PP 7/1999. Sembilan belas tahun saya mengamati bagaimana hutan-hutan yang terlihat indah permai tapi lambat laut nan pasti beranjak sepi. Tahun 2008, Saya masuk Baluran dan mendapati burung Prenjak Jawa ada dimana-mana. Sekarang? Jangankan melihat burungnya, mendengarkan suaranya saja tidak ada.

Di tahun yang sama, Tahura R Soeryo itu kantongnya burung. Di sana ada kolam pemandian air panas. Di tahun itu, orang-orang yang mandi bisa sambil ditemani burung bernyanyi dan menari di sekitar kolam. Yang namanya burung kacamata gunung itu burung paling membosankan, karena saking banyaknya.

Sekarang? Semuanya lenyap. Kemana mereka? Kalau boleh mengacu laporan Traffic Tahun 2015, dari 3 pasar burung terbesar di Jawa (Pramuka, Jatinegara, dan Barito) ada 19,039 ekor burung dari 206 spesies. Jumlah terbesar adalah jenis kacamata.
*

Kucica Hutan, Cucak Rawa & Jalak Suren Dikeluarkan Daftar Satwa Dilindungi

Saya dan sebagian besar penggiat konservasi burung di Indonesia adalah pengikut garis moderat dalam menyikapi tren pemeliharaan burung dewasa. Termasuk Permen yang berubah dalam hitungan bulan itu.

Saya tidak tahu dasar saintifik yang digunakan dalam revisi permen. Saya juga tidak berhasil mengakses banyak informasi dari laman LIPI, atau hasil-hasil penelitian tentang 3 jenis yang dilakukan oleh LIPI. Mohon ijin saya pake data Burungnesia. Burungnesia adalah aplikasi berbasis Android dalam memetakan sebaran burung real time di seluruh Indonesia.

Sampai tulisan ini dibuat, Burungnesia sudah diunduh 4,560 kali pada aplikasi yang bisa diunduh pada Google Play. Ada 1,331 user aktif yang mengirim data setiap hari. Ada 31,468 rows data yang dikirim dari 2,416 titik pengamatan dari seluruh Indonesia. Dan sudah mencatat 919 jenis burung atau lebih dari separuh total jenis burung di Indonesia. Semua data itu terus bertambah setiap hari.

Tentang kualitas data Burungnesia, dari 1,331 user aktif sudah melalui proses seleksi sebelum mereka di-approve. Jadi hanya mereka yang punya kompetensi yang bisa mengirimkan datanya melalui Burungnesia. Itu sebabnya kenapa yang unduh 4 ribuan tapi yang aktif cuma seribuan. Karena ini urusannya dengan data ilmiah yang harus terjaga keotentifikasinya.

Sekedar diketahui, banyak kawan-kawan KLHK yang menggunakan aplikasi ini untuk memonitoring burung di masing-masing UPT. Dan saya bisa pastikan mereka adalah pengamat burung handal.

Dari data Burungnesia, kita jadi tahu betapa susahnya menemukan Kucica Hutan (KH), Jalak Suren (JS) dan Cucak Rawa (CR) di habitat aslinya. Bahkan CR tidak satupun pengguna Burungnesia yang pernah lihat di alam. Di Jawa, bisa dipastikan CR sudah punah.

Burung Kucica Hutan, dari 2016 hanya ditemukan 11 kali. Tercatat 5 kali di tahun 2016, 4 kali di 2017 dan hanya 2 kali di tahun 2018. Jalak Suren, berdasarkan data hanya ditemukan 3 kali, itupun terdata di tahun 2017 dalam tiga tahun terakhir. Cucak rawa? Apa yang bisa saya sampaikan? Hanya Tuhan yang tahu dimana dia sekarang.
*

Punah di Alam, Membludak di Penangkaran

Pada titik ini, saya benar-benar habis akal menemukan logika “Kalau berlimpah di penangkaran, meskipun hampir punah di alam maka boleh tidak dilindungi”. Saya berupaya mencari, meskipun kecil, pembenaran logika itu. Tapi sepertinya itu sia-sia.

Jika begitu, apa yang bisa menjadi jaminan populasi burung CR, KH, dan JS bisa pulih dengan banyaknya individu di penangkaran.

Memang ada ketentuan 10% wajib dilepasliarkan ke alam oleh penangkar. Bagaimana tahu besaran prosesnya selesai yang dilepaskan ke alam kalau jumlah individu di penangkaran tidak diketahui pasti?

Anggap saja semua penangkar tertib mau release 10%. Masalahnya, yang direlease itu murni hasil penangkaran atau panen di alam? Siapa yang menjamin mereka tidak ambil dari alam? Untuk mendapatkan turunan juara lomba ocehan piala Presiden dibutuhkan variasi genetik tinggi kan. Dan individu dari alam adalah solusi terbaik.

Sekeyakinan saya, pemain burung ocehan tidak akan terganggu dapurnya meski ada Permen 20. Memang ada putaran ekonomi yang sangat besar dalam bisnis burung ocehan. Bahkan pernah disebutkan bisa mencapai Rp 1,7 triliun.

Mulai dari penjual burungnya, pembuat sangkar, kroto, sampai pemilik channel Youtube burung ocehan. Hanya mereka yang gila yang tega menganggu ribuan dapur masyarakatnya yang menggantungkan hidupnya dari bisnis burung ocehan.

Bagi kami dan pemerhati kelestarian hayati, Permen 20/2018 adalah oase yang menyegarkan di tengah krisis over hunting burung di alam. Memang ada gejolak signifikan dari pelaku bisnis burung ocehan, terutama yang sudah terlanjur ambil kredit rumah, mobil, atau waktunya bayar biaya kuliah anaknya.

Mereka takut bisnisnya mandek karena burungnya sudah dilindungi. Maka keluarnya Surat Edaran Dirjen KSDAE Tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi adalah tindakan paling tepat saat ini.

Para pemilik burung yang masuk dalam daftar Permen20 tidak akan dikriminalisasi karena Permen 20 tidak berlaku surut. Penangkar dan penjual bisa terus jualan. Penegak hukum di lapangan lebih mantab dalam penertiban perburuan. Pengamat burung bisa bermimpi melihat CR, KH, dan JS di habitat alaminya.

Saya berharap ke depan tidak ada lagi spesies terancam punah yang jadi tumbal demi kepentingan hobi dan kontes. Kami optimis jalan konservasi masih menyisakan harapan masa depan yang lebih baik. Kelestarian hayati untuk kesejahteraan manusia Indonesia adalah harga mati.

Wassalamu’alaikum

Swiss Winnasis