Sofyan Basir ke Johannes Kotjo: Jangan Mimpi

Dirut PLN, Sofyan Basir menjawab pertanyaan saat menjadi saksi dalam persidangan terdakwa Johannes Sukotjo yang digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta

Daulat.co – Direktur Utama (Dirut) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Sofyan Basir sempat emosi dengan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes B Kotjo. Sofyan geram saat Kotjo membahas dan meminta proyek PLTU Riau-2.

Demikian terungkap saat Sofyan bersaksi untuk terdakwa perkara korupsi proyek PLTU Riau-1, Idrus Marham di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019). Perbincangan antara Sofyan dengan Kotjo terjadi di kediaman Sofyan. P‎ertemuan pada Juni 2018 itu juga dihadiri oleh Menteri Sosial (Mensos), Idrus Marham dan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih. Sofyan mengaku emosi lantaran proyek PLTU Riau-1 belum rampung, namun Kotjo malah meminta proyek PLTU Riau-2.

“Disitu, mohon maaf saya agak sedikit emosi, saya bilang, Pak Kotjo, tolong jangan diskusi, jangan mimpi. Selesaikan saja dulu Riau-1, waktu sudah hampir selesai,” ujar Sofyan.

Kotjo diketahui merupakan orang yang membawa investor China Huadian Engineering Company (CHEC) untuk memegang proyek PLTU Riau-1. Sofyan merasa kesal lantaran proyek PLTU Riau 1 yang akan dikerjakan oleh Kotjo dan investor dari China, belum juga mencapai kesepakatan. Proses negosiasi bahkan terjadi secara alot. Jika Kotjo dan rekanannya tidak sepakat dengan penawaran yang sudah ditetapkan PLN, Sofyan mengancam akan mencari investor lain.

Menurut Sofyan, Idrus saat itu segera memotong percakapan dan meminta agar Eni dan Kotjo keluar dari ruang tamu.

“Pak Idrus bilang, ya sudah Pak Kotjo sama dinda (Eni) keluar saja dulu. Akhirnya mereka berdua keluar,” tutur Sofyan.

Sofyan punya alasan mengapa dirinya mau menerima kehadiran Eni bersama Kotjo dikediamannya. Salah satunya lantaran Eni sebagai anggota Dewan suka berpihak pada PLN.

“Beliau sebagai Wakil Ketua Komisi VII yang di mana saat kami rapat dengar pendapat (RDP), dia selalu berpihak pada PLN,” kata Sofyan.

Dimata Sofyan, Eni selalu menanggapi positif terkait kebijakan dan usulan yang dikeluarkan PT PLN. Contohnya terkait tarif energi baru terbarukan dan batubara.

Sofyan memastikan tidak ada permintaan PLN dalam kontrak kerja sama yang dikurangi karena pertemuan itu. “Ini lah mengapa kami sangat menghargai kawan-kawan di sana (DPR), termasuk Bu Eni. Karena hubungan sosial dan mitra kerja, ya kami temui,” ujar Sofyan.

Idrus Marham didakwa oleh Jaksa penuntut umum pada KPK menerima uang suap proyek pembangunan PLTU Riau-1 sebesar Rp 2,25 miliar dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johanes B Kotjo.
Suap itu dimaksudkan untuk membantu Kotjo mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) PLTU Riau-1. Idrus didakwa menerima suap bersama-sama dengan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih.

(Rangga Tranggana)