Sekjen PSI: Memangnya SBY Masih Bertaji Buat Membantu Suara Prabowo?

Daulat.co – Hasil Survei Indikator Indonesia menunjukkan elektabilitas Jokowi-KH Ma’ruf Amin unggul dengan selisih 20 persenan dari Prabowo-Sandiaga Uno.

Sekjen PSI Raja Juli Antoni bertanya, apakah kubu Prabowo-Sandiaga masih bisa mengejar? Apalagi sisa waktu kampanye dalam hitungan bulan, dan serangan berita hoaks tidak mempan buat menarik suara.

“Ini apakah kubu sebelah bisa mengejar ketertinggaln 20 persen. Dengan kampanye tak lama lagi, dengan isu yang berulang kali mereka lakukan, bahwa hoaks tidak lagi menurunkan menaikan elektabilitas,” ujar Raja Juli di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Ditanya soal komentar Partai Demkrat yang yakin Prabowo-Sandi bisa mengejar jika Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut turun gunung mengampanyekan Prabowo.

“Kita lihat saja, di Pilkada Jakarta saja pak SBY anaknya kalah. Apakah itu menandakan taji pak SBY tidak tajam atau tidak bertaji lagi,” ujar Raja Juli.

Ia juga menilai, jangkan buat memenangkan Prabowo, taji pak SBY justru harus diperlihatkan dalam menyikapi kasus Andi Arief yang disinyalir terlibat langsung dalam hoaks tujuh kontainer surat suara tercoblos.

“Kalau bisa memberikan sanksi kepada Andi Arief artinya dia masih bertaji, karena pak SBY kan selalu politik santun ya dan Andi Arief memperlihatkan politik yang berseberangan dengan pak SBY. Kira-kira pak SBY masih bertaji enggak untuk sekadar memberikan sanksi Andi Arief yang merusak citra Demokrat dan merusak citra SBY,” tanya Raja Juli.

Pada kenyataanya, jelas Raja Juli, SBY seperti membiarkan saja Andi Arif. Karena itu, muncul pertanyaan apakah SBY justru merestui apa yang dilakukan Andi Arif dengan senyuman.

“Itu senyum (SBY) artinya apa. Ya tanya Pak SBY atau orang Demokrat. Dengan tidak menegur, apakah senyum itu sebagai isyarat beliau merestui Andi Arief,” tuntas Raja Juli.

(M Sahlan)