Sekjen Gerindra Akui Kekuatan Penyokong Prabowo Berusaha Dilumpuhkan

http://daulat.co/wp-content/uploads/2018/06/Ahmad-Muzani.jpeg

daulat.co – Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menyebut Pilpres 2019 adalah masa terberat bagi Prabowo Subianti dibanding dua Pilpres yang diikuti sebelumnya.

Muzani yang sudah tiga kali menjadi Sekjen mendampingi Prabowo dalam Pilpres membeberkan sejumlah fakta pelumpuhan kekuatan dukungan Prabowo pada Pilpres 2019.

Pertama, kata Muzani, adanya pengerahan dukungan kepala daerah yang dilakukan calon petahana. Pada saat bersamaan, kepala daerah yang diusung partai oposisi tidak berani menyatakan dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandi dengan berbagai alasan.

“Kami merasakan di 2009 tidak ada pengerahan bupati, wali kota, gubernur semasif seperti sekarang ini. Sekarang ini gubernur, bupati, wali kota seperti dikerahkan untuk memberikan deklarasi dukungan ke Jokowi-Ma’ruf,” ujar Muzani.

Kedua, lanjut Muzani, ada beberapa lembaga survei merasa keberatan diminta bantuan kubu Prabowo-Sandi untuk melakukan riset dengan alasan satu dan lain hal.

Lebih dari itu, kata Muzani, banyak pengusaha yang enggan memberikan dukungan logistik kepada koalisi Prabowo-Sandiaga dalam mengikuti Pilpres. para pengusaha takut apabila memberikan bantuan kepada Prabowo-Sandiaga, maka kontrak kerjasama proyek bersama pemerintah yang menggunakan dana APBN dan APBD dihentikan.

“Kami merasakan bagaimana pengusaha-pengusaha itu dengan berat hati untuk membantu kami dan bersembunyi sembunyi, karena mereka mengatakan bahwa proyek kami dengan pemerintah APBN atau APBD terancam. Jadi kami merasa bahwa Prabowo saat ini dikepung,” ujarnya.

Dengan semua alasan tersebut, Muzani mengatakan bahwa Pilpres 2019 merupakan masa terberat bagi Prabowo Subianto. Pada Pilpres 2009 misalnya, tidak ada pengerahan kepala daerah secara massif oleh calon calon petahana.

“Dari tiga kali Prabowo maju Pilpres, yang kebetulan saya tetap jadi Sekjen partai yang mengusung beliau, kami merasakan terus terang ini adalah bobot terberat beliau menjadi calon presiden,” tegasnya.

Prabowo memang sudah tiga kali tampil sebagai calon dalam Pilpres. Pertama pada 2009 ia menjadi Cawapres berpasangan dengan Megawati. Kemudian pada 2014 menjadi Capres berpasangan dengan Hatta Rajasa. Adapun pada 2019 Prabowo menjadi Capres berpasangan dengan Sandiaga Uno.

(M Sahlan)