Sekjen dan Bendum KONI Segera Duduk di Kursi Pesakitan Pengadilan Tipikor

Daulat.co – Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy segera duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Hal itu menyusul telah rampungnya pemberkasan dua tersangka kasus suap dana Hibah di Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tersebut.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan,
tim penyidik telah merampungkan kasus ini dan melimpahkannya ke tahap penuntutan atau tahap II. Dengan pelimpahan ini, tim Jaksa Penuntut KPK memiliki waktu 14 hari untuk menyusun surat dakwaan terhadap Ending dan Jhonny.

“Penyidikan untuk dua orang tersangka telah selesai. Hari ini dilakukan pelimpahan berkas, barang bukti dan dua tersangka kasus dugaan suap terkait dengan penyaluran bantuan dari pemerintah melalui Kempora kepada KONI Tahun Anggaran 2018,” ucap Febri Diansyah, melalui pesan singkat, Jumat (15/2/2019).

Surat dakwaan tersebut nantinya akan dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Rencannya persidangan keduanya akan digelar di Pengdilan Tipikor Jakarta.

“Persidangan rencananya akan dilakukan di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat,” ujar Febri.

Dalam mengusut kasus ini, tim penyidik telah memeriksa sekitar 23 orang saksi. Diantara saksi yang sudah diperiksa tim penyidik yakni Menpora Imam Nahrawi, Inspektorat Jenderal Kempora, Asisten Deputi Kempora, Tim Verifikasi Kempora dan Kabag Biro Hukum Kempora.

Sementara dari pihak KONI, KPK sudah memeriksa Ketua Umum KONI, Tono Suratman, staf KONI. KPK selain itu juga memeriksa PNS dan karyawan swasta.

Dalam kasus ini, KPK baru menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi penyaluran bantuan dari Pemerintah melalui Kemenpora KONI.
Mereka adalah Deputi IV Kemenpora Mulyana (MUL), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Purnomo (AP), Staf Kemenpora Eko Triyanto (ET), Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy (EFH), dan Bendahara Umum KONI Jhony E. Awuy (JEA).

Adhi Purnomo dan Eko Triyanto diduga menerima pemberian sekurang-kurangnya Rp 318 juta dari pengurus KONI. Selain itu, Mulyana juga menerima Rp 100 juta melalui ATM.

Mulyana sebelumnya juga sudah menerima suap lain dari pejabat KONI, yakni 1 unit Toyota Fortuner, 1 unit Samsung Galaxy Note 9, dan uang Rp 300 juta dari Jhony.

Disuga uang tersebut diterima Mulyana, Adhi, dan Eko agar Kemenpora mengucurkan dana hibah kepada KONI. Adapun dana hibah dari Kemenpora untuk KONI yang dialokasikan sebesar Rp 17,9 miliar.

KONI di tahap awal diduga mengajukan proposal kepada Kemenpora untuk mendapatkan dana hibah tersebut. Diduga pengajuan dan penyaluran dana hibah sebagai akal-akalan dan tidak sesuai kondisi sebenarnya. Sebelum proposal diajukan, diduga telah ada kesepakatan antara pihak Kemenpora dan KONI untuk mengalokasikan fee sebesar 19,13 persen dari total dana hibah Rp 17,9 miliar, yaitu sejumlah Rp 3,4 miliar.

Dalam kurun 2018, KONI menerima bantuan dari Kemenpora Rp 67,9 miliar. Jumlah tersebut termasuk dana hibah dari Kemenpora untuk KONI yang dialokasikan sebesar Rp 17,9 miliar.

Dana Rp 17,9 miliar itu berujung rasuah lantaran diduga diwarnai praktik suap antara pihak KONI dan Kemenpora. KPK sedang mendalami lebih jauh dugaan rasuah terkait pemberian dana hibah puluhan miliar tersebut.

(Rangga Tranggana)