SBY, Prabowo, Jokowi dan Strategi Sun Tzu

ilustrasi adu strategi kekuasaan di Pilpres 2019
ilustrasi adu strategi kekuasaan di Pilpres 2019

“Kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya”. Sun Tzu (400-320 SM) dalam ‘The Art of War’

Antiklimaks! Itulah yang terjadi dalam pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/7/2017).

Publik menduga pertemuan akan menghasilkan duet calon presiden-wakil presiden yang diusung kedua parpol itu, ternyata tidak. Keduanya hanya sepakat akan mengawasi jalannya pemerintahan Presiden Joko Widodo, tanpa koalisi (Suara Merdeka, Jumat 28/7/2017).

Pertemuan SBY-Prabowo dipicu presidential threshold atau ambang batas pencalonan presiden 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional dalam Undang-Undang (UU) Pemilu yang pada 20 Juli 2017 disahkan DPR minus Gerindra, Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang walk out.

Pertemuan SBY-Prabowo ditunggu publik, mengingat keduanya pernah batal bertemu menjelang Pilkada DKI Jakarta. Pertemuan SBY-Prabowo sekaligus membuktikan kebenaran adagium ‘tak ada kawan atau lawan abadi, yang abadi adalah kepentingan’ mengingat semasa di Akabri dulu SBY-Prabowo konon kerap berseteru.

Meski demikian, bila sudah menyangkut capres-cawapres, hubungan kedua parpol diyakini tak akan simetris, karena Gerindra sudah pasti mengajukan Prabowo sebagai capres, sementara Demokrat akan mengajukan calon sendiri baik sebagai capres atau pun cawapres pada Pemilihan Presiden 2019, sehingga tak ada chemistry-nya.

Tak mungkin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), jago yang sedang dielus-elus Demokrat, diajukan sebagai capres oleh Gerindra, atau cawapres oleh Demokrat, karena bila hal itu terjadi maka tak akan menambah captive market suara, mengingat Prabowo dan AHY sama-sama berlatar militer.

Terlepas dari itu, yang jelas Jokowi berhasil menerapkan strategi ala Sun Tzu seperti dikutip di atas. Ketika kita tidak mengetahui rencana lawan secara jelas, serang dan pelajari reaksi lawan. Perilakunya akan membongkar strateginya.

Jokowi menggunakan UU Pemilu, yang memaksa parpol-parpol untuk berkoalisi dalam pencapresan, untuk ‘memukul rumput’, sehingga ‘ular-ular’ di sekitarnya pun kaget lalu bermunculan.

SBY telah ‘bertapa’ enam bulan sejak kekalahan AHY dalam Pilkada DKI putaran pertama, 15 Februari 2017. Kesediaannya bertemu Prabowo mungkin untuk mengembalikan pamornya yang sempat redup pasca-pidato ‘Lebaran Kuda’.

Prabowo pun tak banyak tampil di publik sejak kemenangan Anis Baswedan-Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI putaran kedua, 19 April 2017. Lalu muncul pula Yusril Ihza Mahendra yang mengajukan judicial review (uji materi) atas UU Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Dengan merapatnya Prabowo ke SBY, strategi keduanya pun akan terbaca Jokowi, misalnya pada Pilpres 2019 keduanya nyaris mustahil untuk berkoalisi, sehingga kemungkinan akan muncul nama baru. Apakah nama baru itu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang diisukan akan menjadi ‘kuda hitam’? Tampaknya tak mungkin juga, karena Gatot juga berlatar militer.

Mungkinkah Yusril menjadi cawapres dari Prabowo atau AHY? Mungkin pulakah Yusril menjadi capres dari AHY? Kemungkinan itu sangat kecil, mengingat dalam Pilkada DKI, Prabowo dan SBY bahkan tidak melirik Yusril meski sudah menawar-nawarkan diri, apalagi semasa menjabat Presiden, SBY pernah mencopot Yusril dari jabatan Menteri Sekretaris Negara. Prabowo lebih melirik Anies Baswedan, dan SBY akhirnya mengajukan AHY, anaknya, sebagai calon gubernur DKI.

Akankah Anis menjadi cawapres Prabowo, mengingat saat ini ia juga sudah bergerilya ke daerah-daerah? Atau justru Anis menjadi capres, untuk mengulang sukses Jokowi, sementara Prabowo menjadi cawapres? Biarlah waktu yang akan menjawab.

Usai bertemu Prabowo, SBY mengaku akan menemui parpol-parpol lainnya. Namun, tampaknya SBY hanya akan menemui parpol-parpol penolakpresidential threshold, karena merekalah yang kemungkinan akan berkoalisi pada Pilpres 2019. Apalagi bila nanti PAN benar-benar hengkang dari kabinet.

Sedangkan Jokowi tetap nyaman dengan koalisi PDIP, Partai Golkar, Partai Nasdem, Partai Hanura, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Golkar, Nasdem, dan PPP sudah eksplisit mencalonkan kembali Jokowi, disusul Partai Hanura dan Partai Perindo, namun mereka tak punya figur cawapres. Bisa jadi Jokowi akan berduet dengan Gatot Nurmantyo.

Alat pemukul lain Jokowi adalah Perppu No. 2 Tahun 2017 yang menggantikan UU No. 17 Tahun 2013 tentang Ormas. Dengan Perppu itu, lawan-lawan politik Jokowi pun bermunculan, dan lagi-lagi Yusril yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), serta Ketua Majelis Kehormatan PAN Amien Rais. Dengan itu, Jokowi pun bisa memetakan kekuatan politik lawan-lawannya.

Deja vu! Akankah Jokowi-Prabowo head to head lagi dalam Pilpres 2019? Yang jelas, Jokowi telah berhasil menerapkan strategi Sun Tzu lainnya, yakni ‘memancing harimau turun gunung’. Kini SBY dan Prabowo sudah turun gunung, sehingga strategi mereka pun sudah terbaca oleh Jokowi.

Karyudi Sutajah Putra, pegiat media, tinggal di Jakarta.