REMAJA Pertimbangkan Jalur Hukum untuk Puisi Fadli Zon

daulat.co – Relawan Millenial Jokowi Ma’ruf (REMAJA) mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum terkait maraknya hoaks dan ujaran kebencian yang membahayakan keutuhan bangsa Indonesia.

“Hoaks menurut saya extraoradinary crime. Kejahatan sangat-sangat luar biasa. Akibatnya malah lebih dahsyat dari korupsi maupun teroris,” ujar Direktur Hukum & Advokasi Tim Kampanye Nasional (TKN), Ade Irfan Pulungan dalam Diskusi, Q&A di studio youtube REMAJA, Tebet, Jakarta, akhir pekan kemarin.

Ade Irfan menjelaskan, kenapa hoaks disebut kejahatan luar biasa? karena dampaknya bukan hanya pada korban, tapi generasi-generasi selanjutnya. Karena yang dipengaruhi adalah mind set generasi tersebut dan ini terjadi secara massif.

Sejalan dengan Ade Irfan, Ketua Umum REMAJA, Misbahul Ulum, memandang persoalan hoaks dan ujaran kebencian seharusnya bisa ditekan jika para tokoh dan politikus bisa memberikan keteladanan dengan tidak melakukan pembiaran, apalagi sampai ikut melakukan hal tersebut.

“Tokoh politik sebagai publik figur seharusnya menjadi teladan. Mereka hendaknya menunjukkan perilaku bermoral khususnya di ruang publik. Bukan justru sebaliknya, menunjukkan kebencian,” tegasnya.

Misbahul yang juga Wakil Direktur Penggalangan dan Jaringan TKN, mencontohkan kasus puisi Fadli Zon yang menurutnya jauh dari contoh moral publik.

Sebagai Wakil Ketua DPR RI, jelas Misbahul, Fadli Zon mestinya sadar bahwa ia mewakili wajah rakyat Indonesia. Tidak layak bagi seorang pejabat publik menghina. Apalagi jika ditujukan kepada ulama sepuh yang dihormati semua kalangan seperti Kiai Sepuh NU Mbah Moen.

Menegaskan sikap REMAJA, Wakil Sekjend Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menuntut agar Fadli Zon meminta maaf atas pelecehan yang dilakukan pada puisinya ‘Doa yang Tertukar’ kepada KH. Maimun Zubair (Mbah Moen).

“Sebagai santri, kami akan menerima permintaan maaf Fadli Zon jika dilakukan secara ikhlas, tertulis, dan terbuka. Jika tidak kami akan menempuh jalur hukum,” tuntas Misbahul.

(M Sahlan)