Puasa Juga Dilakukan Makhluk Lain Selain Manusia

SESUNGGUHNYA puasa tidak hanya dilakukan oleh umat manusia. Beberapa makhluk hidup lainnya dalam fase tertentu kehidupannya juga menjalani puasa. Puasa dilakukan mahluk lain selain manusia secara terpaksa karena kekurangan makanan, atau kerasnya habitat hidup seperti pergantian musim.

Demikian beberapa hal pokok ceramah agama disampaiakan Pasijianbangman Pusbintal TNI Mayor Laut (KH) Hardiman pada acara Bakamla Town Hall Metting di Kantor Pusat Bakamla RI Gedung Perintis Kemerdekaan, Jalan Proklamasi, No 56, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/05).

Hardiman mencontohkan, makhluk yang dekat dengan keseharian manusia seperti ular dan ulat. Disebutkan bahwa semua ular ketika telah tiba saatnya, maka ia harus berpuasa karena kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya.

Kisaran waktu ular berpuasa beraneka ragam. Sebagian ular berpuasa hingga 2 bulan dan sebagian yang lain bahkan ada yang hingga 3 bulan. Hikmah yang bisa diambil dari puasanya ular adalah sesudah puasa, ular tetaplah ular, dengan sikap dan karakter yang tetap sama seperti sebelum puasa. Tetap menjadi binatang buas yang ditakuti, licin dan berbahaya. Yang berubah hanyalah kulitnya yang baru. Nampak lebih muda, dan cerah.

Lingkungan sekitarnya tidak mendapatkan manfaat dari puasanya ular. Bahkan ia meninggalkan jejak kulit lamanya di tempatnya puasa. Jika puasa manusia seperti ular, tidak membawa manfaat bagi sekitar kecuali hanya untuk diri sendiri. Lebih sehat secara jasmani dengan puasa yang dilakukan, tetapi tidak mengubah sikap dan karakter kesehatan rohani.

Sebaik-baiknya, puasa yang jalankan manusia bermanfaat tidak saja bagi diri sendiri juga masyarakat serta lingkungannya. Sebab, tujuan utama puasa adalah menjadikan pelakunya sebagai orang bertakwa. Sebuah tingkatan spritual yang akan membawa pelakunya menjadi mulia dunia akhirat.

Selain itu, puasa juga dilakukan umat terdahulu. Seperti halnya puasanya Nabi Daud, sepanjang hidup dilakukan dengan sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa. Oleh Rasulullah SAW puasa Nabi Daud ini disebut sebagai sebaik-baik puasa. Pada dasarnya kewajiban puasa bertujuan mempertahankan posisi manusia sebagai makhluk terbaik, yang seyogianya selalu berada di jalan yang diridhai Allah.

Inilah yang disebut takwa. Puasa tidak sebatas ritual keagamaan yang dilakukan dalam rangka mencari pahala, tetapi menjadi sebuah bentuk pelatihan mental dan eksaminasi bagi jiwa manusia untuk selalu berkecenderungan baik. Dengan proses semacam ini, manusia dituntut untuk mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Karena itu, puasa pada hakikatnya mengandung dimensi tauhid yang amat dalam, di mana manusia dituntut untuk mampu mendekatkan ruhaninya kepada Allah sebagai makhluk yang bertakwa. Inilah esensi ajaran ketauhidtan, yang menghindarkan manusia dari unsur-unsur kemusyrikan atau orientasi hidup kepada selain Allah.

Puasa di bulan Ramadhan berfungsi sebagai peringatan dan pemberi jalan bagi manusia untuk kembali pada kondisi kepercayaan, yang amat akrab dengan alam ke-Tuhan-an (Ilahiyah). Puasa hanya bisa dipahami dalam kerangka pembersihan diri manusia dari unsur-unsur kemusyrikan akibat godaan-godaan
material.

Melalui ibadah puasa, manusia dituntut untuk mengarungi alam rohaniahnya sehingga mampu berkomunikasi langsung dengan Allah, tanpa perantara.