24 September 2020, 05:50

Prof Carey: Tidak Ada Hubungan Antara Utsmaniyah dan Jawa

daulat.co – Sejarawan asal Inggris Profesor Peter Carey menegaskan kembali jika hingga kini tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan adanya hubungan antara Utsmaniyah dengan Jawa. Hal itu dikatakan Christopher Reinhart, asisten peneliti Prof Peter Carey, dalam keterangan tertulisnya kepada daulat.co, Kamis 20 Agustus 2020.

“Tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan bahwa ‘negara’ Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak (1475–1558), utamanya raja pertamanya, Raden Patah (bertakhta, 1475–1518), memiliki kontak dengan Turki Utsmani,” tegas dia.

Christopher Reinhart menuturkan tanggapan dan permintaan Prof Carey atas klaim adanya hubungan antara Kekhalifahan Utsmaniyah dan Kesultanan-kesultanan Islam di Jawa di dalam ‘Film Jejak Khilafah di Nusantara’ yang sempat mencatut namanya.

“Pada tanggal 16 Agustus 2020, Prof Carey (telah) mengirimkan surel kepada ahli sejarah hubungan Utsmaniyah–Asia Tenggara, Dr Ismail Hakki Kadi, yang dibalas pada tanggal 18 Agustus 2020 perihal klaim-klaim yang tersebut di atas,” kata dia.

Beberapa poin dalam surat elektronik (surel) Prof Carey tersebut antara lain menyangkut beberapa poin. Pertama, tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan bahwa ‘negara’ Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak.

“(Kedua) Kesultanan yang ada di Pulau Jawa, tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa,” kata dia.

Ketiga, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Turki Utsmani dan Kesultanan Yogyakarta (didirikan 1749) dalam hal hierarki sebagaimana dimaksud di dalam poin nomor 2. Termasuk tidak ada bukti dokumen sejarah yang menunjukkan bahwa panji ‘Tunggul Wulung’ merupakan ‘bukti’ bahwa Yogyakarta adalah wakil dari Turki Utsmani di Jawa.

Kata Prof Carey, dirinya pasti akan atau telah memasukkan hasil penelitian Dr Ismail Hakki Kadi, jika ada satu saja dari ‘legenda-legenda’ yang disebutkan memiliki dukungan bukti sejarah, ke dalam hasil penelitiannya yang terbaru.

Hasil penelitian terbaru dimaksud sudah disunting bersama dengan Prof ACS Peacock dari Universitas St Andrew’s di Skotlandia dengan judul Ottoman-Southeast Asian Relations; Sources from the Ottoman Archives.

Prof Carey juga menegaskan jika keterangan yang disampaikan ini sekaligus meluruskan informasi yang diklaim berdasarkan sejarah, dimana namanya dicatut di dalamnya. Padahal sama sekali tidak memiliki bukti dokumenter kesejarahan yang valid.

Tendensi semacam ini, lanjut dia, yang ditunjukkan oleh generasi sekarang, tampak seperti bentuk minderwardigheid (ketidakpercayadirian) yang menganggap bahwa orang-orang Indonesia masa lampau tidak dapat bertahan dari kolonialisme tanpa bantuan asing.

Padahal, jelas sejarah yang asli dari negara ini menunjukkan bahwa orang-orang Indonesia sendiri dan perjuangannya adalah faktor yang membuat Indonesia dapat bertahan melewati penjajahan Eropa maupun Jepang hingga akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan yang penuh pada 17 Agustus 1945.

(Faqih Noormansyah)

Read Previous

Jokowi Ajak Pengusaha Mikro Bekerja Keras Lewati Masa Pandemik

Read Next

PTKIN Ujung Tombak Menyiarkan Islam Moderat