27 January 2021, 21:35

Prihatin Kondisi Belajar Siswa di Madura, Mahasiswa UMM Berikan Penyuluhan

Pengabdian Masyarakat UMM

daulat.co – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terpanggil untuk memberikan penyuluhan kepada anak-anak sekolah di Madura, tepatnya di Desa Prancak. Mereka terketuk untuk memberikan perhatian kepada anak-anak sekolah yang terkendala dalam proses pembelajaran selama pandemi Covid-19.

Melalui Tim Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa, mereka menyelenggarakan penyuluhan secara rutin di Sekolah Dasar (SD) Desa Prancak, Madura, sejak bulan Desember 2020 lalu. Penyuluhan juga dilakukan kepada warga desa setempat mengenai upaya pencegahan Covid-19.

Venieda Dwi Fitria, salah satu perwakilan tim mahasiswa, sebagaimana dilansir Muhammadiyah (6/1/2020) mengungkapkan, tidak banyak warga desa yang benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Hal itu terlihat saat ia dan tim melakukan survei langsung ke desa Prancak. Banyak warga yang tidak disiplin menggunakan masker dan seringkali berkerumun. 

“Angka positif Covid di sini memang rendah. Mungkin hal itu yang membuat mereka kurang memperhatikan protokol kesehatan,” jelas mahasiswa kelahiran Kalimantan ini.

Berangkat dari kenyataan tersebut, mereka memutuskan untuk mengedukasi warga terkait protokol kesehatan (Prokes). Utamanya kepada anak-anak yang bersekolah secara luring. Ia mengaku program kegiatan kelompok mereka disambut baik oleh pemerintah setempat.

“Kami mendapatkan bantuan berupa masker, sabun cuci tangan, dan hand sanitizer dari Dinas Kesehatan setempat,” tegas Venieda.

Anak kedua dari dua bersaudara ini menceritakan berbagai kesulitan yang dihadapi saat melakukan sosialisasi. Salah satunya adalah anak-anak yang tidak fasih berbahasa Indonesia, padahal tidak satupun anggota tim yang dapat berbicara bahasa Madura.

“Anak-anak kelas tiga ke atas mungkin sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Namun tidak ada satupun siswa kelas satu dan dua yang fasih berbahasa Indonesia. Jadi kami meminta bantuan guru-guru untuk menerjemahkan,” lanjut Venieda.

Tim PMM UMM juga memiliki keterbatasan pada akses transportasi. Setiap harinya mereka harus menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dengan berjalan kaki dari tempat menginap sampai ke sekolah.

“Kebetulan kepala desa menyediakan tempat tinggal mengingat kami semua berasal dari luar daerah. Namun jarak dari pintu masuk desa ke sekolah sangat jauh. Kami juga tidak memiliki kendaraan untuk dipakai di sini,” pungkas mahasiswa Fakultas Hukum itu.

(M Nurrohman)

Read Previous

Hukuman Kebiri Predator Seksual, Angin Segar Bagi Perlindungan Anak

Read Next

Soroti EUA Vaksin Belum Keluar, Saleh Daulay Dorong Menkes Koordinasi Dengan BPOM