26 May 2020, 06:29

Presiden Kehilangan Ephor

Rajikin Juraid

Rajikin Juraid

DALAM Negara Utopianya, Plato membayangkan pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan yang tinggi. Dengan kata lain adalah Plato memimpikan sebuah negara yang dipimpin oleh seorang filsuf, ‘philosopher as a king’.

Menurut Plato, pemerintahan dalam polis Sparta-lah yang paling mendekati negara utopia. Dalam polis Sparta terdapat satu raja yang memegang kendali atas militer dan memegang keputusan atas pemerintahan dalam polis tersebut.

Untuk pengambilan keputusan dalam pemerintahan, raja dibantu oleh beberapa orang ephor agar keputusan yang diambil dapat lebih bijaksana.

Ephor merupakan orang-orang bijaksana yang tugasnya membantu raja dalam hal pemerintahan sekaligus sebagai pagar untuk raja agar tidak melanggar aturan-aturan yang ditetapkan.

Tentu saja ephor tidak dapat mengambil keputusan sendiri, keputusan tetap diambil oleh kepala negara ini dimaksud agar tata urus pemerintahan berlangsung tertib.

Yang menarik adalah, meskipun ephor berada dalam lingkaran kekuasaan raja, namun ephor tidak bisa sewenang-wenang menggunakan peluang itu untuk mengumpulkan harta kekayaan. Kenapa? Karena Negara memiliki aturan yang ketat membatasi maksimal kekayaan yang dapat dimiliki oleh ephor.

Tidak hanya ephor yang dibatasi kekayaaannya oleh negara, tetapi juga terhadap orang yang bekerja dalam instansi pemerintah. Akan tetapi ephor dan orang-orang yang berkerja dalam instansi pemerintah tersebut juga tidak boleh dalam keadaan miskin.

Ini dimaksudkan agar mereka yang bekerja dalam instansi pemerintah tersebut dapat bekerja tanpa mengharapkan kekayaan, sehingga korupsi yang rentan terjadi dalam institusi pemerintahan dapat dihindari.

Dalam konteks sekarang, ephor ini dapat diidentikkan dengan staf khusus, tenaga ahli atau mungkin dewan pertimbangan Presiden, atau pejabat yang setiap saat ada disekitar Presiden yang tugasnya memberikan masukan kepada Presiden. Ada juga sebagian orang yang mengidentikkan ephor dengan anggota DPR.

Walaupun staf khusus, staf ahli atau dewan pertimbangan Presiden tersebut tidak dibatasi kepemilikan terhadap harta, namun semangat ephor itu sangatlah penting menjadi panduan moralitas dalam bekerja dilingkaran kekuasaan Presiden. Setidaknya tidak menggunakan peluang itu untuk menumpuk kekayaan.

Namun, menyaksikan yang terjadi dilingkaran Istana hari-hari ini, terutama dalam menangani Covid-19, Istana Negara terasa dangkal, kering dari kebijaksanaan, tak ada koordinasi, tak terbangun satu visi.

Presiden seolah dibiarkan bekerja sendiri. Presiden kehilangan ephor. Yang banyak adalah barisan tak tahu diri yang hanya memperkaya diri dan terkadang menjadi duri.

Razikin Juraid
Ketua Hukum dan HAM PP Pemuda Muhammadiyah

Read Previous

Jelang Buka Puasa, Pemuda Pancasila Pulosari Bagi-bagi Takjil Gratis

Read Next

Bagi Sembako, Posko Madhang Waras Sisir Warga Terdampak Corona