PMA Pendidikan Inklusif Madrasah Disiapkan Untuk Tingkatkan Layanan Pendis

http://daulat.co/wp-content/uploads/2018/11/A.Umar_.jpg

daulat.co – Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A.Umar mengatakan bahwa Kementerian Agama telah menyiapkan rancangan Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang Pendidikan Inklusif pada Madrasah. Regulasi ini disiapkan dalam rangka memberikan peningkatan pelayanan pendidikan Islam di Indonesia.

“Saat ini praktik pendidikan inklusif sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh madrasah-madrasah di Indonesia. Namun, perkembangannya belum cukup masif,” kata Umar saat membuka Bimtek Peningkatan Madrasah Inklusif di Bogor, Kamis (08/11).

Umar menuturkan bahwa Penyiapan  PMA tersebut dilakukan dengan melibatkan pelaku-pelaku pendidikan inklusif pada madrasah. Yakni dengan mengundang kepala madrasah, guru madrasah, serta perwakilan kemenag provinsi.

Untuk itu, dalam kesempatan ini Umar berharap dengan PMA ini nantinya dapat mendorong keberadaan madrasah untuk melakukan pendidikan inklusif.

Sementara itu, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat KSKK Madrasah Kemenag Abdulah Faqih menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah sebenarnya sudah berlangsung sejak 2008. Namun baru pada 2013, Kemenag mulai mengembangkan kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah.

Menurut Faqih, dalam rentang 2015 – 2016, tercatat ada 22 madrasah yang ditetapkan sebagai penyelenggaraan pendidikan inklusif. Madrasah itu terdapat di beberapa provinsi, yakni: Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Banten.

“Nah, praktiknya saat ini madrasah penyelenggara pendidikan inklusif ini sudah banyak tersebar di beberapa provinsi lainnya. Tidak hanya pada 22 madrasah itu,” tutur Faqih.

“Dengan adanya PMA ini, diharapkan ada standarisasi pengelolaan pendidikan inklusif pada madrasah-madrasah yang telah menyelenggarakan layanan tersebut. Ini akan membuka peluang dilaksanakannya kolaborasi-kolaborasi untuk peningkatan layanan tersebut,” pungkas Faqih.

 

(M Nurrohman)