Pimpinan KPK: Korupsi Garuda Segera Disidang

Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif dan Deputi Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Rob Fenn di Gedung KPK, Jakarta, Senin (11/2/2819).

Daulat.co – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera merampungkan penyidikan kasus dugaan pengadaan pesawat Airbus dan mesin pesawat Rolls-Royce di PT Garuda Indonesia (Persero) periode ‎2004-2015. Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif menyebut kasus yang menjerat mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar ini segera selesai.

“Kasus ini akan segera selesai,” ucap Laode di kantornya, Jakarta, Senin (11/2/2019).

Dalam mengungkap kasus ini, KPK bekerjasama dengan sejumlah pihak baik di dalam dan luar negeri. Salah satunya dengan Lembaga antikorupsi Inggris Serious Fraud Office (SFO). Menurut Laode, pihaknya telah mengantongi banyak data terkait kasus itu dari SFO.

“Saya berterima kasih karena semua dokumen yang diminta ke SFO, sudah berada di tangan KPK,” ungkap Laode.

Emirsyah dan pendiri PT Mugi Rekso Abadi (MRA) yang juga beneficial owner Connaught International Pte. Ltd, Soetikno Soedarjo diketahui telah ditetapkan sebagai tersangka kasus ini sejak Januari 2017. Hingga saat ini Emirsyah dan Soetikno belum juga dijebloskan ke jeruji besi.

Laode tak merespon soal penahanan terhadap dua tersangka itu. Yang jelas, kata Laode, kasus dugaan korupsi Garuda ini akan segera disidangkan.

“Tunggu saja, Kasus Garuda akan segera disidangkan,” ujar Laode.

Dalam kasus ini, Emirsyah diduga menerima suap dalam bentuk transfer uang dan aset yang nilainya mencapai lebih dari 4 Juta dolar AS atau setara dengan Rp 52 miliar dari perusahaan asal Inggris yakni Rolls-Royce, di antaranya melalui pendiri PT MRA Group Soetikno Soedarjo dalam kapasitasnya sebagai Beneficial Owner Connaught International Pte.ltd. Diduga suap terjadi selama Emir menjabat sebagai Dirut PT Garuda Indonesia pada 2005 hingga 2014. KPK menduga Emir juga menerima suap terkait pembelian pesawat dari Airbus.

Dalam proses penyidikan kasus ini, KPK telah menyita sebuah rumah di daerah Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Rumah yang disita tersebut senilai Rp 8,5 miliar. KPK menduga uang untuk membeli rumah tersebut diduga berasal dari Soetikno Soedarjo. KPK menduga suap yang diterima Emir diberikan melalui Soetikno.

(Rangga Tranggana)