24 November 2020, 22:04

Perencanaan Belum Matang, Program Digitalisasi Sekolah Rp 3 Triliun Terkesan Terburu-buru

e-Learning

e-Learning

daulat.co – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih mengkritisi, program digitalisasi sekolah pada 2021 yang menelan anggaran hingga Rp 3 trilliun. Kata dia, program tersebut masih belum matang dari sisi perencanaan dan terkesan terburu-buru.  

“Wilayah 3T belum tercover penuh jaringan internet, sedangkan SDM guru kita juga masih belum siap, harusnya selesaikan PR ini dulu,” katanya di Gedung DPR RI Senayan, Senin 9 Desember 2020.

Menurutnya, niat pemerintah untuk digitalisasi sekolah di wilayah  terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui pengadaan laptop, proyektor, dan perangkat teknologi informasi (TIK) dinilai kurang tepat sasaran.

“Sarana pendukung digital itu wajib ada akses internet, sedangkan data pemerintah sendiri menunjukkan wilayah 3T masih sulit dijangkau sinyal,” ucap politisi PKS ini.

Dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pemerintah masih belum optimal menyediakan akses internet hingga 100 persen di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Baru setengah dari total desa di wilayah 3T yang terjangkau jaringan 4G.

Fikri merujuk Data Kominfo 2020, bahwa infrastruktur 4G yang telah dibangun telah mencapai 83.218 desa/kelurahan di seluruh Indonesia. Dari 20.341 desa di wilayah 3T, masih ada 9.113 desa lainnya yang belum terselimuti jaringan 4G. 

Sebab itu, bantuan laptop hanya akan menjadi barang pajangan mewah di sekolah, tanpa adanya sinyal internet sebagai akses pendukung utama. Alat-alatnya diadakan, tapi buat apa bila tidak bisa akses informasi dan update bahan pelajaran.

Fikri menyinggung kesiapan sumber daya manusia terutama guru dan tenaga kependidikan dalam program digitalisasi ini. Dimana dari hasil survei Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kemendikbud dilakukan pada akhir 2018.

Dimana diketahui 60 persen guru masih gagap teknologi informasi, atau baru 40 persen yang melek dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Ia meminta peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama guru dan tenaga kependidikan menjadi prioritas pemerintah terlebih dahulu.

“Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, kreatifitas dan kualitas pendidik benar-benar diuji untuk menjamin kegiatan belajar mengajar tetap kondusif secara virtual,” imbuhnya.

Setiap program Pendidikan nasional, lanjut Fikri semestinya juga memperhatikan kondisi kelokalan yang menjadi sasaran. Sayangnya, Mendikbud kurang dapat support data yang cukup.

“Sebaiknya walaupun Think globally, tapi harus tetep Act Locally sesuai data lapangan yang bahkan sudah tersedia dan telah dirilis oleh Kemendikbud sendiri,” demikian Fikri.

(M Abdurrahman)

Read Previous

Dorong Masyarakat Petanjungan Sadar Covid-19, H Nuryadi Bagikan Masker Gratis

Read Next

KPK Dalami Dugaan Aliran Uang Proyek Fiktif Waskita Karya ke Politikus PDIP