23 June 2021, 19:43

Pembobol Bank BNI Pauline Maria Lumowa Didakwa Memperkaya Diri Rp 1,2 Triliun

Pauline Maria Lumowa

daulat.co – Terdakwa perkara skandal Letter of Credit (L/C) fiktif Pauline Maria Lumowa alias Erry alias Maria Pauline Lumowa menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (13/1/2021). Sidang beragendakan pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum (JPU) pada Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.

Diketahui, Maria sebelumnya buron sejak 2003. Setelah 17 tahun buron, Maria berhasil diekstradisi dari Serbia pada 9 Juli 2020 lalu.

Dalam dakwaan jaksa, perbuatan Maria  disebut memperkaya diri sendiri pihak lain dan koorporasinya hingga Rp 1,2 triliun. Maria didakwa mengajukan pencairan berupa letter of credit (LC) dengan melampirkan dokumen ekspor fiktif BNI 46 cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pihak lain yang diduga diuntungkan dari perbuatan Maria yakni Adrian Herling Waworuntu. Sementara koorporasi yang diperkaya yaitu PT Jaka Sakti Buana Internasional, PT Bima Mandala, PT Mahesa Karya Putra Mandiri, PT Parasetya Cipta Tulada, PT Infinity Finance, PT Brocolin International, PT Oenam Marble Industri, PT Restu Rama, PT Aditya Putra Pratama Finance dan PT Grahasali. Atas tindakannya tersebut, Maria Pauline merugikan negara hingga Rp 1.214.648.422.331,43.

Adapun perkara ini terjadi pada 2002. Maria Lumowa yang saat itu merupakan pemilik PT Sagared Team dan Gramindo Group bekerja sama dengan Adrian Herling Waworuntu selaku Komisaris PT Sumber Sarana Bintan Jaya. Maria Lumowa meminta Adrian untuk menjadi konsultan investasi pada perusahaan miliknya PT Sagared Team.

Pada Agustus 2002, Maria Lumowa bersama orang kepercayaannya, Ollah Abdullah Agam dan Eddy Santoso selaku Manager Pelayanan Nasabah Luar Negeri BNI 46, mengajukan permohonan kredit atas nama PT Oenam Marble. Namun permohonan itu ditolak BNI.

Tak putus asa atas penolakan tersebut, Maria kemudian mengajukan proposal kredit untuk pembiayaan PT Oenam Marble. Eddy Santoso lantas meminta Maria membantu menutup kerugian BNI sebesar USD 9,8 juta, karena dokumen ekspor fiktif yang tidak terbayar dari PT Mahesa Karya Putra Mandiri dan PT Petindo.

Usulan itu disanggupi Maria dengan membeli perusahaan PT Gramindo Mega Indonesia, PT Magentiq Usaha Esa Indonesia, PT PAN Kifros, PT Bhinekatama Pasific, PT Metrantara, PT Basomasindo dan PT Trinaru Caraka Pasific. Maria menempatkan sejumlah orang-orang kepercayaannya pada posisi strategis perusahaan tersebut.

“Jane Iriany Lumowa menjabat sebagai Presiden Direktur PT Sagared Team (adik kandung terdakwa), Ollah Abdullah Agam sebagai Managing Direktur PT Sagared Team, Adrian Pandelaki Lumowa (Alm) sebagai Manager Marketing PT Sagared Team (Adik kandung terdakwa) Titik Pristiwati sebagai Manager Community Development PT Sagared Team,” kata Jaksa.

Dugaan kerugian negara sebesar Rp 1.214.648.422.331,43 itu muncul karena
beberapa uang LC kredit masuk ke rekening pribadi Maria dan rekening perusahaan miliknya yang dinilai sebagai rekening fiktif.

Atas dugaan perbuatannya, Maria didakwa melanggar pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang UU Tipikor sebagaimana diubah dengan UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Selain itu, Maria juga didakwa melakukan pencucian uang. Maria didakwa melanggar pasal 6 ayat (1) huruf a dan b UU nomor 15 tahun 2002 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang yang diubah dengan UU nomor 25 tahun 2003 tentang perubahan atas UU nomor 15 tahun 2002 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Maria diduga melakukan pencucian uang ke dalam penyedia jasa keuangan PT Aditya Putra Pratama Finance dan PT Infinity Finance baik atas namanya sendiri dan koorporasi yakni PT Sagared Team, PT Bhinekatama Pasific, PT Magnetiq, PT Gramarindo Mega Indonesia , PT Bima Mandala dan PT Dimas Drilindo.

Maria menaruh uangnya sebesar USD 4.800.000 dan Rp 20.309.379.384 kepada PT Aditya Putra Pratama Finance. Sementara pada PT Infinity Finance, Maria membeli 70% saham perusahaan tersebut sebesar USD 1.000.000 dan modal kerja sebesar Rp 4.000.000.000.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

19 Tahanan KPK Positif Covid-19 Jalani Isolasi di Wisma Atlet

Read Next

Geledah Rumah Ortu Politikus PDIP, KPK Sita Alat Komunikasi dan Dokumen