24 September 2020, 04:56

PDIP Kritik Balik PKS Yang Sebut Jalur Pemalang Selatan Bak Masuk Goa: Selama Ini Kemana?

daulat.co – Politisi PDI Perjuangan Pemalang Agung Dewanto merasa heran dengan pernyataan kader PKS yang menilai tidak ada kemajuan berarti soal pembangunan di Kabupaten Pemalang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Padahal, PKS mewakilkan anggotanya di DPRD untuk mengawasi dan mengontrol berbagai kebijakan.

“Ketika Riyono (politisi PKS) mengkritik bahwa jalan ke Pemalang seperti di hutan, Mas Riyono itu lewat jalur yang mana? Atau jangan-jangan pas ke selatan, lampu mobilnya itu pas mati,” tegas dia kepada daulat.co, Sabtu 12 September 2020, menanggapi pernyataan Riyono soal jalan ke Pemalang Selatan pada malam hari seperti orang masuk goa.

Menurut Agung, memberikan penilaian itu sebenarnya sah-sah saja dilakukan. Hanya saja, memberikan penilaian juga harus komprehensif tidak sepotong-potong. Termasuk memberikan penilaian mengenai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Pemalang. Sebab di daerah manapun, ada banyak unsur dalam suatu daerah dalam melaksanakan pembangunan.

Ada eksekutif selaku pelaksana pemerintahan, namun ada juga lembaga legislatif yang melaksanakan fungsi pengawasan, fungsi kontrol dan fungsi anggaran. Di eksekutif sendiri ada jenjang pejabat yang melaksanakan fungsi teknis kebijakan pemerintah.

“Nah, PKS itu kan ada disitu (DPRD Pemalang), bisa melaksanakan fungsi pengawasan, kontroling dan budgeting kebijakan-kebijakan pemerintah. Barangkali PKS lupa, dia berada di dalam sistem, tetapi kenapa dia tidak bisa berbuat apa-apa. Selama ini kemana?,” kata Agung.

Mengenai perlunya perubahan kepemimpinan di Kabupaten Pemalang dalam lima tahun mendatang, Agung sepakat. Sebab ke depan, Bupati Junaedi sudah tidak menjabat dan memang tidak bisa mencalonkan kembali. Perubahan dimaksud adalah perubahan kepemimpinan dari Bupati Junaedi kepada penerusnya yang nantinya memenangkan kontestasi Pilkada Pemalang Tahun 2020.

“Lah kan memang Pilkada kali ini menuju atau mengarah pada perubahan. Karena apa? Karena incumbent sudah tidak bisa maju lagi. Semua calon yang muncul itu baik semua, karena mempunyai cita-cita perubahan,” jelasnya.

Perlu diketahui publik, lanjut Agung, dibawah kepemimpinan Bupati Junaedi, ada banyak kemajuan pembangunan yang dilakukan. Beberapa proyek mercusuar bisa dijadikan tolak ukurnya. Dari pembangunan Masjid Agung, Stadion Mochtar, Pasar Randudongkal hingga Pembangunan Pasar Buah Pemalang.

“Perolehan WTP itu prestasi yang patut dibanggakan. WTP itu bukan dari sekda, ada kinerja Bupati, DPRD dan semua pihak. Kerja-kerja kolektif antara eksekutif dan legislatif,” kata dia.

“Bagi kami, siapapun nantinya bupati terpilih ke depan, wajib hukumnya memajukan Pemalang. Wajib hukumnya membangkitkan ekonomi Pemalang,” sambung Agung yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Cabang PDIP Pemalang.

Sebelumnya, dalam acara Pendidikan Politik dan Konsolidasi Partai DPD PKS Pemalang yang dihadiri balon Bupati dan Wakil Bupati yang diusung PKS dan PKB, Iskandar Ali Syahbana – Akhmad Agus Wardana, Anggota Fraksi PKS DPRD Jateng Riyono menyatakan pembangunan di Kabupaten Pemalang dalam sepuluh terakhir seperti berjalan di tempat.

Bahkan bisa dikatakan tidak ada perubahan sama sekali di Pemalang. Hal itu berbeda dengan daerah atau tetangga sebelah. Jika pada malam hari ke Pemalang Selatan seperti ke hutan, bahkan seperti masuk ke goa karena gelap.

Selain itu, ia juga menyoroti rendahnya IPM di Kabupaten Pemalang. Tercatat, IPM Pemalang berada pada urutan terbawah ke dua se – Propinsi Jawa Tengah. Kondisi tersebut adalah tantangan sekaligus momentum bagi balon Iskandar – Awe untuk merubah Pemalang menjadi lebih baik ke depan.

(Sumitro)

Read Previous

Mendagri: Netralitas ASN Jadi Kunci Keberhasilan Pilkada

Read Next

Jokowi Imbau Guru Semangat Belajar Mengajar di Masa Pandemi