5 July 2020, 19:33

Nazaruddin Hirup Udara Bebas dari Lapas Sukamiskin

daulat.co – Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin telah menghirup udara bebas dari Lapas Sukamiskin, Bandung. Saat ini terpidana kasus korupsi Wisma Atlet Hambalang itu menjalani cuti menjelang bebas dari lapas tersebut.

“Pada hari Minggu, 14 Juni 2020, Pukul 07.45 WIB dikeluarkan satu orang WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) atas nama M. Nazaruddin untuk melaksanakan Cuti Menjelang Bebas,” ucap Kadivpas Kanwil Kemkumham Jawa Barat, Abdul Aris dalam keterangannya, Selasa (16/6/2020).

Menurut Abdul Aris, pemberian Cuti Menjelang Bebas kepada Nazaruddin ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor : PAS-738.PK.01.04.06 Tahun 2020 tanggal 10 Juni 2020 tentang Cuti Menjelang Bebas an. Muhamad Nazaruddin Bin Latief. Nazaruddin akan menjalani Cuti Menjelang Bebas mulai 14 Juni 2020 hingga 13 Agustus 2020.

“Dengan pengawasan dan bimbingan dari Bapas Bandung sesuai domisili penjaminnya,” kata dia.

Sebelum dibebaskan, kata Abdul Aris, Nazaruddin dihadapkan terlebih dahulu ke petugas Badan Pemasyarakatan (Bapas) Bandung pada Jumat (12/6/2020). Nazaruddin setelah proses pendataan dan serah terima pelaksanaan Cuti Menjelang Bebas sempat kembali ke Lapas Sukamiskin dengan dua pengawas.

“Kegiatan Pembimbingan awal WBP di Bapas Bandung selesai, selanjutnya WBP menjalani CMB dengan pengawasan dan pembimbingan dari Bapas Bandung,” ujar Abdul Aris.

Nazaruddin diketahui divonis dalam dua kasus korupsi berbeda. Dari dua kasus berbeda itu, total masa hukuman Nazaruddin adalah 13 tahun penjara.

Adapun vonis pertama, mantan anggota DPR itu pada 20 April 2012 divonis 4 tahun 10 bulan penjara dan denda Rp 200 juta oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Saat itu, Nazaruddin dinilai terbukti menerima suap sebesar Rp 4,6 miliar yang diserahkan mantan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris kepada dua pejabat bagian keuangan Grup Permai, Yulianis dan Oktarina Fury.

Nazaruddin selain itu juga dinilai memiliki andil membuat PT DGI, yang kini berubah nama menjadi PT Nusa Konstruksi Enjiniring untuk memenangkan lelang proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games 2011 dan Gedung Serba Guna Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, di Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Kemudian Mahkamah Agung memperberat hukuman Nazaruddin, dari 4 tahun 10 bulan penjara dan denda Rp 200 juta menjadi 7 tahun penjara dan Rp 300 juta.

Saat menjalani masa hukuman tersebut, Nazaruddin kembali divonis pada 15 Juni 2016 atas kasus gratifikasi dan tindak pidana pencucian uang. Nazaruddin divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan penjara.

Terkait perkara itu, Nazaruddin terbukti menerima gratifikasi dari PT DGI dan PT Nindya Karya untuk sejumlah proyek di bidang pendidikan dan kesehatan, yang jumlahnya mencapai Rp 40,37 miliar. Dari uang tersebut, Bos Permai Grup itu salah satunya membeli saham PT Garuda Indonesia sekitar tahun 2011, menggunakan anak perusahaan Permai Grup.

(Rangga Tranggana)

Read Previous

KPK Periksa Direktur PT Humpuss Transportasi Kimia

Read Next

Kasus Suap dan Gratifikasi Nurhadi, KPK Sita Tas dan Sepatu