9 August 2020, 14:46

Mesin Panen Kombet: Awalnya Ditolak, Kini Dirasakan Manfaatnya

KEBERADAAN mesin panen padi, kombet, selain mendukung proses produksi petani menjadi lebih efektif dan efisien, juga menimbulkan permasalahan baru. Banyak petani di Pemalang yang tidak terserap dalam proses panen.

Keterlibatan petani, khususnya emak-emak, pada saat panen padi atau dalam istilah sederhana petani -derep, semakin terpinggirkan.

Belakangan, petani mulai menyadari dan merasakan manfaat dari mesin panen kombet. Kepala Desa Sitemu, Kecamatan Taman, Musiam Sayuti, dalam wawancara santai dengan daulat.co, Selasa 21 Juli 2020, mengakui hal tersebut.

“Waktu itu, saya sampai marahi itu operator kombet yang dari Demak,” kata Kades Musiam mengenang awal kombet masuk ke desanya, 2014 silam.

Pemilik sawah di Desa Sitemu, Sudirman, mengatakan, keberadaan mesin panen kombet menghasilkan gabah lebih bersih dan cepat selesai. Hitung-hitungannya dibandingkan melibatkan banyak petani juga lebih hemat biaya.

“Satu bau hanya mengeluarkan biaya dua juta tahun ini, memang tahun kemarin biaya sampai tiga juta,” katanya sambil memperhatikan kombet yang terjebak dalam lumpur.

Sementara Kardi, pemilik dan operator kombet, menjelaskan, banyak petani di Pemalang membutuhkan tenaganya meskipun jauh-jauh dari Demak, Jawa Tengah. Ia mengaku siap menerima permintaan untuk memanen padi di desa-desa Pemalang.

“Sebagian padi di sini kena hama wereng pak,” katanya pada daulat.co.

Disampaikan pula jika kombet yang dibelinya seharga Rp 500 juta mampu menjelajah sawah-sawah berlumpur yang tidak terlalu dalam. Jika sawahnya berlumpur dan diperkirakan kombet tak bisa bergerak, maka Kardi menolak memanennya.

(Kustajianto)

Read Previous

Eks Bupati Lampura Mulai Huni Rutan Bandar Lampung

Read Next

Breaking News: Bupati Pemalang dan Istri Positif Covid-19