9 August 2020, 15:03

Mengunjungi Petilasan Syeh Siti Jenar di Kendalrejo, ‘Sahabat’ Syeh Jambukarang

SEJAK dulu, diakui penduduk Desa Kendalrejo dan sekitarnya di Kecamatan Petarukan dan Pemalang umumnya, di Desa Kendalrejo terdapat Petilasan Kanjeng Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang.

Petilasan Kanjeng Syeh Siti Jenar terdapat di salah satu dukuh desa setempat. Tepatnya di Dukuh Kropak. daulat.co menyempatkan diri berkunjung ke petilasan tersebut, Rabu 29 Juli 2020 sore.

Ditemui Warsito (50), juru kunci Petilasan Syeh Siti Jenar. Ia menceritakan secara singkat sejarah petilasan tersebut. Obrolan ringan mengalir dari sang juru kunci dari dekat petilasan. Setelah berdoa dan meminta restu, ia selanjutnya membuka tabir petilasan. 

Dituturkan Warsito, kisah Syeh Siti Jenar di Demak yang diduga sesat dalam mengajarkan Agama Islam, berbeda dengan kisah Syeh Siti Jenar di Kendalrejo.

Di desa yang awalnya menyatu dengan Desa Kendaldoyong, sebelum dilakukannya pemekaran desa, Syeh Siti Jenar mengajarkan Agama Islam sesuai syariat bersama dengan Kanjeng Syeh Jambukarang.

Kata Warsito, penyebaran agama Islam di Kendalrejo dilakukan Syeh Siti Jenar karena ‘disingkirkan’ dari pergaulan Walisongo. Di sini, Syeh Siti Jenar mengajarkan syariat Islam sama seperti yang Walisongo ajarkan.

Bedanya, proses dakwahnya diselingi dengan mengajarkan amalan-amalan khusus yang dikutip dari Al Qur’an. Yakni dengan puasa menggunakan cara jawa. Misalnya, puasa mutih, puasa ngebleng, nglowong, ngepel dan patigeni.

Alasannya, agar hikmah dari amalan-amalan khusus tersebut bisa dibuktikan untuk menandingi para pemeluk non muslim dan penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan.

“Waktu awalnya Islam datang, tentu terjadi peperangan. Desa ini lebih dulu ada sebelum Pemalang ada. Hal itu diceritakan turun-temurun oleh mbah buyut-mbah buyut yang telah wafat,” kata Warsito.

“Pemeluk Agama Islam hari ini di Desa Kendalrejo adalah berkat perjuangan Kanjeng Syeh Siti Jenar dan Kanjeng Syeh Jambukarang,” sambungnya.

(Kustajianto)

Read Previous

Alumni Kanisius dan FEUI 1983 Minta Rekannya Dibebaskan

Read Next

Harlah ke-65, Sarbumusi Gelar Lomba Cipta Lagu Mars