9 August 2020, 15:14

Mengambil Hikmah Dari Perjuangan Pendiri Desa Gandu, Mbah Pucung

daulat.co – Demikian hebat perhatian masyarakat Desa Gandu Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang terhadap Makam Mbah Pucung. Secara swadaya, masyarakat melakukan rehabilitasi bangunan yang diketahui sudah jalan sepekan terakhir.

Rencana anggaran sekitar Rp 100 juta dan pada saat ini telah terkumpul lima puluh persen dana. Demikian disampaikan Budi Purnomi (45), pengawas pembangunan Makam Mbah Pucung.

“Rehab swadaya ini membuktikan penghargaan kepada pendiri Desa Gandu,” kata Budi disela-sela kesibukannya melakukan pengawasan.

Sisnanto (57), Kasi Kesejahteraan Desa Gandu, menuturkan sejarah yang pernah didengar dari mbah buyutnya. Kata dia, pada waktu Belanda menjajah negeri ini, Kasultanan Surakarta Hadiningrat mengirimkan pasukan namanya Pasukan Mataram.

Pasukan Mataram dikirim ke Batavia yang bertujuan untuk mengusir VOC. Akan tetapi, dalam prosesnya kalah perang. Daripada kembali ke Kasultanan tanpa hasil, maka setiap prajurit membangun desa dibantu beberapa penduduk setempat.

Desa Gandu terdapat dua tokoh yang membangun desa. Mbah Pucung yang sudah memeluk Agama Islam dan Mbah Wentar yang memeluk Agama Budha.

Setelah beberapa penduduk tinggal di Desa Gandu, terjadilah pertarungan antara Mbah Pucing dan Mbah Wentar. Dalam pertarungan tersebut, dengan kesaktiannya, Mbah Pucung secara tiba-tiba mengeluarkan ayam jago.

Karena Mbah Wentar juga memiliki kemampuan yang hebat. Beliau mengeluarkan jagung ditaruh diubun-ubun kepala. Dengan cepat jagung itu terbakar sampai matang.

“Silakan jagung ini buat umpan ayam mililkmu,” kata Mbah Wentar sambil mengulurkan  jagung.

Merasa tersaingi maka terjadilah pertempuran hebat antara kedua tokoh. Pada akhirnya Mbah Wentar gugur dan jenazahnya dimakamkan tak jauh dari rumah Mbah Pucung.

Pemakaman yang dibantu penduduk setempat ini dengan cara pemakaman Agama Islam. Tutur Sisnanto dalam perbincangan hangat dengan daulat.co dirumahnya di Dukuh Pucung tidak jauh dari Makam Mbah Pucung, Minggu 19 Juli 2020.

(Kustajianto)

Read Previous

Soal Usulan Wewenang BPIP, Prof Jimly Dinilai Membingungkan

Read Next

Ludiyanto: Lihat, Dengar dan Eksekusi